infokito

jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Madzhab Asy’ariyah dan Sejarah Berdirinya

Posted by infokito™ pada 4 Maret 2018

Konsep akidah Asy’ariyah dicetuskan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Nama lengkap beliau adalah Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Al-Asy’ari lahir tahun 260 H (873 M) dan wafat pada tahun 324 H (935 M). Al-Asy’ari lahir di Basra, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad.

Dalam sejarah pendidikannya, di waktu kecil, ia belajar kepada seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Al-Juba’i. Kepada Al-Juba’i ini ia telah mempelajari ajaran-ajaran Mu’tazilah dan mengkajinya secara mendalam. Sebelum mendirikan madzhab sendiri, Al-Asy’ari karenanya merupakan ulama Mu’tazilah. Aliran yang dikenal sangat rasional di dalam Islam ini, diikutinya terus sampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku dalam perspektif Mu’tazilah.

Namun, seiring dengan perkembangan waktu, Abu Hasan Al-Asy’ari mengalami perubahan. Pada tahun 912, secara mengejutkan dirinya telah menyatakan diri untuk keluar dari paham Mu’tazilah dan mendirikan teologi baru yang belakangan dikenal sebagai Asy’ariah. Ketika dirinya mencapai usia 40 tahun, ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan para jamaah dan masyarakat Basrah itulah ia menyatakan bahwa ia mula-mula mengatakan bahwa Quran adalah makhluk, begitu juga Allah SWT tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah mausia sendiri yang memperbuatnya, yang semuanya merupakan cermin dari ajaran Mu’tazilah, maka ketika di hadapan orang banyak itu, ia mengatakan, “Saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut, saya harus menolak paham-paham orang Mu’tazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahannya”.

Sebagai gantinya, ia lebih condong ke dalam pemikiran moderat atau yang kelak disebut sebagai pemikiran akidah ahlussunnah wal jama’ah dan telah mengembangkan ajaran seperti sifat Allah 20. Di masa itu, Mu’tazilah memang telah menjadi aliran yang memuakkan bagi masyarakat, mengingat saat itu Mu’tazilah telah diberlakukan sebagai madzhab resmi negara, sehingga banyak paksaan dan intimidasi yang dilancarkan oleh para penganut Mu’tazilah untuk menyebarkan ajaran-ajarannya di tengah masyarakat. Sehingga ketika Al-Asy’ari menyatakan keluar dari Mu’tazilah dan mengkonstruksi konsep akidahnya sendiri, banyak tokoh pemikir Islam yang mendukung pemikiran-pemikiran dari imam ini, salah satunya yang terkenal adalah “sang hujjatul Islam” Imam Al-Ghazali, terutama di bidang ilmu kalam/ilmu tauhid/ushuluddin.

Walaupun banyak ulama yang menentang pemikirannya, tetapi banyak masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya, terutama di bidang akidah, termasuk warga NU. Orang-orang yang mendukung dan mengikut akidah akidah hasil konseptualisasi Abu Hasan Al’Asy’ari inilah yang kemudian disebut kelompok “Asy’ariyyah”. Nama ini dikaitkan dengan pendirinya sendiri yakni Abu Hasan Al-Asy’ari. Di berbagai belahan dunia Islam, khususnya di Indonesia, aliran Asy’ariyah ini paling banyak diikuti, karena ciri khasnya yang moderat.

Aliran ini juga senafas dengan konsep akidah yang dikembangkan oleh Abu Manshur Al-Maturidi. Ini terihat dari metode pengenalan sifat-sifat Allah yang terkenal dengan nama 20 sifat Allah, baik yang wajib maupun yang muhal, yang banyak diajarkan di pesantren pesantren yang berbasiskan ahlussunnah wal jama’ah dan Nahdhatul Ulama (NU) khususnya, dan sekolah-sekolah formal pada umumnya.

Abu Hasan Al-Asy’ari termasuk ulama yang sangat produktif. Beliau banyak meninggalkan karangan-karangan dan kitab-kitab. Kurang lebih 90 kitab telah ia tulis yang menyangkut berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di antara karya-karya Al-Asy’ari yang terkenal adalah:

  • Maqalat al-Islamiyyin
  • Al-Ibanah ‘an Ushulid Diniyah
  • Al-Luma
  • Idhah al-Burhan fi ar-Raddi ‘ala az-Zaighi wa ath-Thughyan
  • Tafsir al-Quran (Hafil al-Jami)
  • Ar-Radd ‘ala Ibni ar-Rawandi fi ash-Shifat wa al-Quran
  • Al-Fushul fi ar-Radd ‘ala al-Mulhidin wa al-Kharijin ‘an al-Millah
  • Al-Qami’ likitab al-Khalidi fi al-Iradah’
  • Kitab al-Ijtihad fi al-Ahkam
  • Kitab al-Akhbar wa Tashhihiha
  • Kitab al-Idrak fi Fununi min Lathif al-Kalam
  • Kitab al-Imamah
  • At-Tabyin ‘an Ushuli ad-Din
  • Asy-Syarhu wa at-Tafshil fi ar-Raddi ‘ala Ahli al-Ifki wa at-Tadhlil
  • Al-‘Amdu fi ar-Ru’yah
  • Kitab al-Maujiz
  • Kitab fi Khalqi al-A’mal
  • Kitab ash-Shifat
  • Kitab ar-Radd ‘ala al-Mujassimah
  • An-Naqdh ‘ala al-Jubba’i
  • An-Naqdh ‘ala al-Balkhi
  • Jumal Maqalat al-Mulhidin
  • Kitab fi ash-Shifat
  • Adab al-Jidal
  • Al-Funan fi ar-Raddhi ‘ala al-Mulhidin
  • An-Nawadir fi Daqaiqi al-Kalam
  • Jawaz Ru’yat Allah bil Abshar
  • Risalah ila Ahli Ats-Tsughar

Wallahu a’lam

***disadur dari sebuah tulisan dalam kitab Madzhab Ukhuwah KH. Abdul Somad Lc. MA, yang ditulis oleh Samsul Arifin & M. Taufiq Maulana, halaman 30-33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: