infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

  • ahlan wa sahlan

  • Laman

  • Tulisan Terbaru

  • Arsip

  • Kategori

  • Kalender

    Januari 2016
    S S R K J S M
    « Nov   Feb »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Tulisan Teratas

  • Statistik

    • 2,349,634 hits

Legenda ”Limparan ngen Dayang Turik”

Posted by infokito™ pada 31 Januari 2016

Limparan ngen Dayang Turik
(SEJARAH MARGA SANGA DESA)

Di pertengahan abad ke XVIII tersebutlah sebuah kelompok penduduk mendiami suatu daerah bernama “Kinyau” dengan ibu dusunnya bernama “Rengas Gemuruh” yang di pimpin oleh seorang yang bernama Syamsuddin (Uding) dengan gelar “Dipati”.

Dipati Syamsuddin berwatak keras, garang dan bengis memimpin dusun Rengas Gemuruh bersama dengan seorang adik perempuannya yang sangat dimanjainya bernama Dayang Turik yang juga tidak kalah kejam dan bengisnya seperti kakaknya. Sebagai kesibukan sehari-harinya Dayang Turik ini selalu bekerja memintal kapas untuk bahan tenunan di tepi Sungai Musi sambil bersenandung dan bernyanyi.

Adalah suatu tabu atau pantangan pada masa itu, bagi orang-orang pedagang-pedagang yang hilir mudik Sungai Musi melewati daerah Kinyau itu, karena akan mengalami hal yang serba salah, yaitu bila mendengar Dayang Turik bernyanyi, bila disambut nyanyiannya akan mengalami muntah darah dan sebaliknya bila tidak disambut atau dibalas nyanyiannya akan menderita sakit keras, mati dan akan mendapatkan hukuman yang berat dari Dipati Syamsuddin.

Tersebutlah seorang pemuda Dusun Pasemah bernama Limparan yang sedang bertapa di atas sebuah batu karang. Pada malam pertama ia digoda oleh para syetan/penunggu tempat tersebut. Pada malam kedua ia digoda dengan datangnya perampok kaya yang membawa harta berlimpah menggodanya untuk bangun dari pertapaannya tapi Limparan tak tergoda. Pada hari ketiga ia digoda oleh siluman yang berparas cantik rupawan tapi limparan tak jua tergoda.

Di akhir tapa/semedinya, muncul seorang kakek tua yang berkata, “Limparan, anakku, sangkan bomi banyak nia godaanye, oleh kitek manusio mudah tegiur nafsu bomi, sangkan nga kusuruh semedi ai betape, oleh aku takut nga dibudak nafsu bomi….. Cegaklah, ikak la waktunye nga merantau ngamalke ilmu yang aku enjuk,… Carila di situ kedamaian,.. Pegi la Limparan!!!!!!”
Kakek tua itu memberikan seruling sakti. Limparan pamit dan pergi meninggalkan dusun pasemah tersebut.

Suatu ketika, Dayang Turik dengan para pengawalnya menuju ke tepi Sungai Musi untuk Memintal Kapas dengan bersenandung.

Panjang la panjang Sungai la Musi
Air mengalir sampai ke Sungsang
Nasibku malang belum berkanti
Rusak la pikir serta melayang

Tersebutlah sebuah rakit bambu betung menghanyut ke hilir sungai musi dengan penumpangnya hanya seorang bernama Limparan yang berasal dari daerah Pasemah dengan membawa seekor ayam beruge. Sebilah parang bergagang kayu manau serta sebuah serunai (suling) yang sakti. Lewatlah rakit tersebut melalui Dusun Rengas Gemuruh ( Kinyau ) justru pada saat itu Dayang Turik sedang sibuk melakukan perkerjaan rutinya sehari-hari memintal kapas untuk bahan tenun sambil bernyanyi dan bersenandung dengan asyik. Dan bersamaan dengan itu, Limparan yang berada di atas rakitnya sambil berhanyut asyik pula meniupi serunai saktinya dengan membawakan lagu yang merdu dan mempesonakan sehingga membuat Dayang Turik terlena mendegarkanya. Rakit Limparan lewat lah Dusun Rengas Gemuruh dengan tenang tanpa halangan.

Akan hal ini, Dayang Turik pun memanggil kakaknya, “Yung,….kuyung udin !!!!”

Jawab Syamsuddin,

Ade ape oi adekku
Rengke nia nyeragi bulan purnama
Kalu tesenyum nyejukke atiku
Ape kendak manggil kuyung nga?

Dayang Turik menyahut, “Aku dak senang,..aku dak agam. Ughang itu la lancang nia, melewati tempat aku besenandung!!!!”

Sahut Syamsuddin dengan nada marah, “Kuremuk tulangnye, ku isap darahnye kalu die mengganggu kesenangan adekku nan cantik jelita. Pengawalku, tangkap ughang tu?????”

Maka terjadilah perkelahian antara pengawal Syamsuddin dengan Limparan dan akhirnya pengawal tersebut kalah.

Dengan kesaktiannya, Limparan lalu meniup suling saktinya sehingga Dipati Syamsuddin terpesona dan lunak hatinya. Maka diangkatlah ia menjadi penasehat Dipati Syamsuddin.

Limparan :
“Aku ikak Limparan dai dusun Pasemah
Ai dai jauh Nuntut ketenangan ati
Kalu tuan teasek teganggu
Maafke ku gek lancing mengusik ketenangan tuanku”

Dipati syamsuddin :
“Begitu kagum aku nelek nga hai Limparan
Kesaktianmu tiada tanding
Bolehkah aku Dipati udin mengangkatmu
Kau begitu layak jadi penasehatku”

Limparan :
“Dai juah rakitku beranyot
Singgah di dusun rengas gemuruh
Dak sanggup aku menentang nasib
Seandainya aku layak ,ku abdike untuk tuanku”

Setelah peristiwa ini, ternyata diam-diam di hati Dayang Turik tumbuh cinta untuk Limparan. Ketika ia duduk sendirian di pinggiran Sungai Musi betapa terkejutnya ia akan kedatangan sosok manusia jadi-jadian berupa Anjing Hutan yang mencoba untuk membunuh Dayang Turik. Tapi sebelum anjing hutan tersebut menggigit tubuh Dayang Turik, muncullah Limparan dan terjadilah perkelahian yang dimenangkan oleh Limparan. Betapa senang hati Dayang Turik karena ia telah terlepas dari bahaya. Dengan rasa cintanya, Dayang Turik pun menyatakan perasaannya kepada Limparan.

Dayang Turik :
“Rakit bambu dai la hulu
Singgah berhenti di tepian
Alangke ribang di dalam atiku
Ge’ nolongku rupe’nye kuyung Limparan

Limparan :
“Sengaja berdagang membawa rakit
Berisi sayur dan tembakau
Sungguh tak baek jika Putri dayang Turik sendirian
Banyak binatang buas yang merusak kecantikan tuanku”

Dayang Turik :
“Seandainye kitek besatu ati
Ku harap ikak bukannye mimpi
Kalu la bulan pasti bekanti malam
Kalu sejudu ai jadi harapan”

Singkat cerita, terkumpullah seluruh pemuka adat dan Limparan memberitahukan dan mengajak para orang-orang terkemuka untuk setuju :
1. Mendirikan dusun yang lebih mantap
2. Mengajak kelompok-kelompok kecil di pedalaman untuk membentuk jadi satu dusun
3. Mempersatukan dusun-dusun tersebut menjadi satu marga
4. Sepakat menjadikan Dipati syamsuddin menjadi Pasirah
5. Membebaskan lalu lintas sungai musi untuk melancarkan arus perdagangan dan keperluan hidup penduduk
Akan hal ini, mereka pun setuju.

Suatu ketika, datanglah sorang pemuda yang bernama Bujang Piamang, berniat untuk menjadi pengawal dari Dipati Syamsuddin. Tapi sebelum niat itu tercapai, ia harus berhadapan dulu dengan Limparan untuk mengetahui sebatas mana kekuatan Bujang piamang. Setelah terjadi perkelahian, ternyata keduanya sama-sama tak terkalahkan dan akhirnya Dipati Syamsuddin mengangkat Bujang Piamang untuk menjadi panglima perang.

Bujang Piamang :
“Niat ati naik perahu
Menganyau dusun sampek ke menanjung
Niat ati besaje nak jadi pengawal tuanku
Kiranya dapat di terima niat baek hamba”

Untuk mewujudkan terbentuknya satu marga, diundanglah kepala-kepala kelompok di pedalaman yaitu:
1. Dipati Kuto Pelangas
2. Dipati Manting
3. Dipati Ajan
4. Dipati Pagar Bunga
Meraka diajak secara damai untuk pindah dan bertempat tinggal di tepian Sungai Musi. Namun Dipati Pagar Bunga tidak mau bergabung, sehingga terjadilah perkelahian antara Bujang Piamang dengan Dipati Pagar Bunga. Bujang Piamang pun belum bisa menandingi Dipati itu, maka Limparan pun meniup serulingnya hingga Dipati tersebut menyerah dan mau untuk bergabung dalam dusun itu, yakni dusun Ngulak.

Dipati Pagar Bunga :
“Tiada senang kami bersatu
Lebih baek dusun jauh dai ughang”

Limparan :
“Tiada maksud memaksa
Kami mengajak membangun dusun
Biar beshak serte rame
Bekumpul besame di dusun Ngulak”

Dipati Pagar Bunga :
“Niat baik tuanku kami tiada setuju
Lebih baek mengasingkan diri
Idak bekumpul dak ape-ape
Cak ikaklah kami”

Setelah melewati masa perjuangan yang cukup panjang dengan banyak memakan korban yang berguguran, akhirnya berdirilah dengan mantap sejumlah dudun-dusun di sepanjang sungai musi yaitu Dusun Ngulak.

Sebelah Hulu terdiri dari :
1. Dusun prabumulih
2. Dusun air balui
3. Dusun nganti
4. Dusun ngunang
Sebelah Hilir terdiri dari :
5. Dusun kemang
6. Dusun Keban
7. Dusun Sereka
Di kenal dengan nama MARGA SINGA DESA.

Akhirnya, Dayang Turik meminta kakaknya Dipati Syamsuddin untuk merestui hubungannya dengan Limparan. Dipati pun menyetujuinya dan mereka pun hidup damai.

Marga Sanga Desa pun terbentuk setelah kejadian tersebut yakni kira-kira tahun 1750 dan berakhir secara resmi pada tahun 1984, yang berarti telah berumur kurang lebih 234 tahun.

Sanga Desa (berarti 9 Desa) yang meliputi dusun-dusun :
1) Dusun Ngulak ‘sebagai Ibu Kota’
2) Dusun Ngunang
3) Dusun Penggage
4) Dusun Jud
5) Dusun Nganti
6) Dusun Air Balui
7) Dusun Terusan
8) Dusun Kemang
9) Dusun Keban

Wallahu a’lam

Referensi: Blog Kesenian Kabupaten MUBA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: