infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Kerajinan Masa Paleolithikum di Asia Tenggara

Posted by infokito™ pada 23 Juli 2015

Selama periode Paleolithikum (zaman batu tua), secara kasar kita dapat membedakan dua budaya melalui tipe peralatan yang mereka gunakan, yaitu budaya kapak batu belah (flake) dan budaya kapak tangan.

Kedua budaya Paleolithikum Asia Tenggara ini dibagi lagi menjadi subdivisi, ke dalam bentuk kerajinan-kerajinan peralatan yang berbeda menurut wilayah geografis, dimana sisa-sisa mereka ditemukan dan menurut jenis peralatan batu mereka.

KERAJINAN HOABINHIAN

Barang-barang kerajianan ini berkembang luas terutama di Semenanjung Malaysia dan di bagian Timur Laut Sumatera. Ini tidak ditemukan di pulau-pulau lain di Indonesia.

Barang-barang kerajinan Hoabinhian dicirikan oleh pembuatan peralatan-peralatan dari batu yang dibelah secara teratur di keseluruhan salah satu atau masing-masing permukaannya. Peralatan peralatan Hoabinhian menghadirkan ujung-ujung pemotong di sekitar pinggirnya, bentuknya bervariasi dan kecil (kira-kira berukuran sekepalan tangan). Peralatan peralatan dikaitkan dengan lumpang-lumpang dan penumbuk batu, yang menunjukkan bahwa suatu teknologi yang kompleks telah digunakan untuk memproses makanan yang tidak bisa langsung dimakan (seperti biji-bijian yang keras) dan pembuatan serat-serat kayu untuk keperluan sandang atau benang.

Peralatan-peralatan batu yang serupa telah ditemukan di situs-situs di seluruh Vietnam, Thailand, Myanmar, Semenanjung Malaysia, dan timur laut Sumatera. Pada dua wilayah yang terakhir disebutkan, peralatan-peralatan yang ditemukan diperkirakan dibuat pada masa 13.000 tahun yang lalu.

Di daerah Semenanjung Malaysia, kebanyakan situs Haobinhian terdiri atas pemukiman-pemukiman batu yang berlokasi di pedalaman di daerah yang berbatu kapur. Yang paling penting adalah situs Gua Cha di Kelantan dan Gua Bukit Taat di Terengganu. Di Sumatera, situs Hoabinhian terletak di pantai antara Medang dan Lhokseumawe, di suatu daerah yang memiliki ketinggian setara dengan permukaan air laut atau berada agak di bawah levelnya, yang menyiratkan bahwa Hoabinhian mampu menyeberang Selat Malaka. Situs-situs Hoabinhian umumnya memperlihatkan bukti-bukti adanya penguburan tekuk, dimana kerangka ditemukan terbaring dengan kaki-kakinya ditekuk dengan posisi janin, terkadang kepalanya disandarkan pada sebuah batu.Kerangka-kerangkanya sering ditutupi dengan debu kuning tanah yang kemerahan.

Kelihatannya gua Hoabinhian tidak mengembangkan bentuk pertanian apa pun. Semua sisa-sisa buah dan sayuran yang ditemukan di situs-situs mereka merupakan hasil dari tanaman liar, bukan tanaman domestik. Mereka mungkin adalah pemburu dan pengumpul, dan terkadang mereka membuat pemukiman (lumpang dan penumbuk batu bukanlah alat yang dibawa seseorang saat mereka hidup nomaden, dan alat-alat itu juga bukan jenis alat yang bisa ditinggalkan begitu saja dengan mudah).

Hoabinhian macro-tools: a, b) chopper; c, d, e, h) split pebble tools (c, e, h: scraper and d: distal denticulated); f) lateral chopper; g) uniface or sumatralith. Drawing by H. Forestier (www.sciencedirect.com)

KERAJINAN BACSONIAN

Barang-barang kerajinan Bacsonian ini dianggap sebagai suatu variasi lanjut dari hasil-hasil kerajinan Hoabinhian. Situs-situs Bacsonian baru ditemukan di Vietnam dan dicirikan suatu proporsi yang besar dari peralatan yang diasah. Kebudayaan ini menandai suatu transisi antara Paleolithikum dan awal budaya Neolithikum lokal.

KERAJINAN BATU DAN BATU BELAH LANJUT

Kerajinan ini, yang berkembang di kepulauan Indo-Melayu di luar ekspansi wilayah Hoabinhian, dicirikan oleh peralatan-peralatan batu semua bentuk yang sederhana tanpa disertai keteraturan apapun. Mereka dibagi lagi ke dalam banyak sub kerajinan.

KERAJINAN NIAH

Gua Niah di Serawak mewakili situs yang paling menarik dari kerajinan batu dan batu belah. Gua-gua ini secara berkesinambungan telah lama sekali menjadi hunian manusia, dari kira-kira 40.000 SM sampai 2.000 tahun yang lampau. Dan karena alasan ini, gua-gua dieksplorasi secara mendalam oleh para arkeolog antara tahun 1954 dan 1967.

Kerajinan Niah terutama terdiri dari peralatan-peralatan yang terbuat dari batuan yang berbutiran kasar tanpa memilik bentuk-bentuk inti yang koheren, seperti halnya dengan spatula-spatula dan mata panah yang terbuat dari taring babi atau tulang-tulang mamalia yang panjang. Peralatan-peralatan lain yang terdiri dari penumbuk batu dan kapak-kapak batu asah.

Sisa-sisa tulang binatang menunjukkan bahwa perburuan dilakukan secara selektif. Spesies utama yang dikonsumsi terutama adalah babi liar, landak, monyet, tapir dan menjangan.

Fosil tertua yang ditemukan di Niah adalah sebuah tengkorak yang berumur 40.000 tahun.Tengkorak tersebut dikubur dengan tulang-tulang lain di bawah sebuah batu besar. Kuburan yang ada menunjukkan posisi kerangka yang ditekuk seperti umumnya, dengan perkecualiaan beberapa buah yang duduk.

KERAJINAN TINGKAYU

Nama dari kerajinan ini diambil dari nama Danau Tingkayu di Sabah Timur. Semua situsnya berada dekat garis pinggir kuno dari danau ini, sebelum pada 18.000 tahun yang lalu terkuras oleh sebuah sungai. Kerajinan Tingkayu dicirikan oleh peralatan-peralatan batu yang dibuat dalam bentuk seperti pisau-pisau wali yang memiliki bentuk-bentuk meruncing, yang memperlihatkan suatu tingkat ketrampian yang hebat.

Setelah danau mengering, situs Tingkayu ditinggalkan dan para penghuninya pindah ke timur menuju laut, ke situs Hagog Bilo. Situs ini kemudian juga ditinggalkan kira-kira 12.000 tahun lampau ke Gua Madai, yang terletak lebih ke timur. Gua-gua Madai dihuni secara intensif antara 10.000 sampai 7.000 tahun lampau. Dalam proses migrasinya, pisau-pisau yang seperti belati menjadi semakin kurang dikenal dan digantikan oleh peralatan-peralatan batu belah yang lebih besar.
Sebagian arkeolog mengedepankan gagasan bahwa perubahan ini dikarenakan kurangnya materi batu, sementara yang lain meyakini bahwa perubahan itu adanya perubahan lingkungan. Penjelasan kedua ini tampak lebih bisa diterima, karena alasan itu berkaitan dengan naiknya level permukaan laut, yang memberikan suatu iklim yang lebih lembab dan hangat dengan membanjiri lembah-lembah pinggir pantai.

Kerajinan batu Tingkayu

Kerajinan batu Tingkayu

KERAJINAN TOALI, SULAWESI

Kerajinan Toali, yang muncul kurang lebih 8.000 tahun lampau, terletak di Sulawesi Selatan di wilayah Maros. Banyak situs ditemukan di gua-gua dan pemukiman. Yang paling terkenal adalah Cabenge, Leang Burung dan Ulu Leang.

Kerajinan ini dicirikan oleh hasil kerajinan mikrolith (belati-belati dan batu belah yang berpunggung kecil dan memiliki bentuk geometrik, biasanya dalam bentuk bulan sabit atau trapeze), mata pisau dan mata panah. Yang paling terkenal adalah mata panah Maros, yang pastinya digunakan sebagai kepala panah. Mikrolithikum ini biasanya muncul dalam bentuk geometrik, dalam bentuk bulan sabit giring-giring (trapeze). Dalam periode akhirnya, klutur ini menghasilkan belanga dan sebagian dari gua itu, seperti Ulu Leang, menghadirkan evolusi lengkap dari kerajinan ini.

Dewasa ini, diyakini bahwa perkembangan mikrolithikum yang canggih seperti mata panah Maros menunjukkan bahwa para pemburu Toali telah bertemu dengan para migran Austronesia awal. Dalam hal ini kemudian menjadi sukar untuk menentukan jiak kerajinan ini merupakan produk asli atau melambangkan suatu adaptasi Paleolithikum dari sebuah budaya Neolithik yang diimpor dari migran Austronesia (sebuah anggapan yang bisa menjelaskan keberadaan alat pecah belah).

Mata Panah Maros dari situs Toalian Sulawesi

Mata Panah Maros dari situs Toalian Sulawesi

Seperti Gua Niah, Gua Toali juga dicat dengan berbagai pigmen warna kuning tanah, dan motif-motifnya menghadirkan gambar tangan dan babi liar. Seperti dalam banyak lukisan goa serupa di Eropa, tangannya kehilangan satu jari atau lebih.

Situs Toalian di Sulawesi

Situs Toalian di Sulawesi

Kerajinan lain ditemukan di Sulawesi Utara, di semenanjung Minahasa, dekat dengan danau Tondano. Kerajinan ini berkaitan dengan suatu kerajinan batu belah obsidian yang muncul pada 6.000 SM.

KERAJINAN SAMPUNG JAWA

Kerajinan ini, seperti dijelaskan oleh Keekeren, berasal dari sebuah gua yang bernama Gua Lawa, yang terletak dekat dengan desa Sampung di Jawa Tengah. Sejumlah mata panah batu dan batu belah ditemukan di dalam gua ini, bersama dengan benda-benda peninggalan lain yang terdiri dari penumbuk batu, spatula-spatula tulang dan sebuah beliung yang dihaluskan. Penguburan tekuk, termasuk kerangka seorang bocah dengan sebuah kalung kerang, dianggap sebagai berasal dari kelompok Austro-Melanesia.

Hasil-hasil yang serupa dengan kerajinan Sampung juga muncul di banyak situs lainnya di bagian ujung timur Jawa, seperti Petpuruh, Sodong, dll. Adanya sedikit batu belah geometris menunjukkan bahwa kerajinan ini serupa dengan kerajinan Toali.

KERAJINAN TIMOR DAN FLORES

Material-material yang digali dari goa-goa yang berlokasi di Timor (Uai Bobo 2) diperkirakan berasal dari 13.000 tahun lampau. Kebanyakan situs Timor memperlihatkan bahwa situs-situs itu terus menerus dihuni sampai suatu periode Neolithikum yang dicirikan oleh kemunculan-terlambat belanga. Situs-situs ini menarik dalam kaitannya bahwa mereka bisa menunjukkan bahwa biji pinang (digunakan untuk bersirih) telah diguanakan 7.000 tahun lampau.

Dari data yang dikumpulkan, tampaknya bahwa kerajinan Sampung, Tolian, dan Timor saling tumpang tindih dengan kerajinan Neolithikum. Mereka menghadirkan suatu perbedaan yang tajam dengan kerajinan Pacitan dan Hoabinhian dengan munculnya batu-batu belah yang baru, bentuk belati yang baru dan munculnya belanga.

Sebuah fakta yang menarik untuk dicatat bahwa dengan perkecualian Sampung, kerajinan-kerajinan ini telah berkembang dalam wilayah-wilayah dengan populasi-populasi yang terbatas. Tipologi dari peralatan-peralatan batu di Asia Tenggara tidak bisa digunakan sebagai indikator dari perkembangan kultural dari para pembuatnya. Analisis atas kerusakan pada pinggir peralatan batu, dengan perkecualian beberapa macam belati atau mikrolith, meununjukkan bahwa kegunaan utama dari peralatan batu Asia Tenggara adalah pembuatan dan pemeliharaan berbagai peralatan organik khusus (yang terbuat dari kayu atau bambu), yang pada gilirannya digunakan untuk memproses sumber-sumber daya yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari berbagai kelompok manusia.

Tampaknya pengaruh terkuat dalam produksi peralatan-peralatan batu bukanlah perkembangan kultural para pembuatnya, namun lingkungan tempat mereka tinggal. Hal ini menjelaskan perbedaan-perbedaan antara berbagai tipe peralatan batu yang ditemukan di banyak situs. Dalam sisi pandang ini, tidaklah mungkin untuk menggolongkan sebuah budaya prasejarah Asia Tengara sebagai Paleolithikum, Mesolithikum atau Neolithikum dengan dasar kerajinan peralatan batu semata, karena di banyak tempat kerajinan seperti itu terus berlanngsung dan tidak mengalami perubahan selama beberapa ribu tahun setelah pengenalan pertanian.

Wallahu a’lam

Disadur dari sebuah tulisan Paul Michel Munoz

Sumber: malaya.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: