infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

  • ahlan wa sahlan

  • Laman

  • Tulisan Terbaru

  • Arsip

  • Kategori

  • Kalender

    Juli 2015
    S S R K J S M
    « Sep   Agu »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Tulisan Teratas

  • Statistik

    • 2,349,634 hits

Mandala Palembang

Posted by infokito™ pada 16 Juli 2015

Mandala merupakan suatu sistem yang terdapat di kawasan Asia Tenggara pada zaman awal, sehingga gambarannya di dalam peta mengenai perbatasan menjadi selalu tumpang tindih.

Menurut O.W.Wolters (History, Culture, and Region in Southeast Asian Perspective):

Karena setiap mandala (lingkaran raja), seorang raja, yang dicirikan sebagai wakil dewa/pembawa wahyu Tuhan dan mempunyai kekuasaan universal, mengklaim hegemoni pribadinya atas penguasa-penguasa lain dalam mandalanya yang mana dalam teorinya adalah pengikut setianya dan vazalnya.

Dalam prakteknya, mandala (berasal dari kata Sanskrit, yang dipergunakan dalam istilah pemerintah di India) menampilkan satu bentuk politik khusus yang tidak selalu dalam keadaan mantap di wilayah geografis yang tidak jelas (samar) tanpa perbatasan yang tetap dan dimana pusat-pusat yang kecil cenderung mencari segala arah untuk keamanan/kesejahteraan. Mandala akan berkembang dan mengecil bagaikan alat musik akordeon yang sedang dipermainkan.

Oleh karena itu, mandala hanyalah dapat dipertahankan atau diperluas oleh raja yang mempunyai political intellegence dan diplomasi. Dengan demikian batas wilayahnya atau mandala pengaruhnya pada zaman prasejarah hingga zaman madya tidak dapat kita pastikan, termasuklah juga wilayah Palembang.

Kesultanan Palembang Darussalam secara struktural membagi wilayahnya atas beberapa bagian.

Kepungutan, yang berarti “dipungut” (dilindungi), merupakan daerah yang langsung diperintah oleh Sultan. Mereka ini dikenakan segala pajak.

Di perbatasan wilayah Kepungutan terletak wilayah Sindang, yang merupakan wilayah paling ujung atau pinggir. Tugas Sindang adalah menjaga batas-batas kerajaan. Penduduknya tidak membayar pajak dan beban-beban lain dari Kesultanan Palembang. Mereka dianggap orang merdeka dan teman dari Sultan, hanya punya suatu ‘kewajiban’ yang lebih bersifat adat yaitu seba setidaknya 3 tahun sekali ke Palembang.

Di antara kedua wilayah tersebut, terdapat pula wilayah Sikap, dimana dusun atau kumpulan dusun yang dilepaskan dari Marga, yang dibawahi langsung oleh Pamong Sultan, yaitu Jenang dan Raban.

Dusun-dusun ini terletak di muara-muara sungai yang strategis, mempunyai tugsa-tugas khusus bagi Sultan, umpamanya tukang kayuh perahu Sultan, tukang kayu keraton, tukang pembawa air, prajurit dan berbagai macam keahlian lainnya. Tugas yang dilakukan mereka disebut sebagai gawe raja.

Sumber: malaya.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: