infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

  • ahlan wa sahlan

  • Laman

  • Tulisan Terbaru

  • Arsip

  • Kategori

  • Kalender

    Februari 2011
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28  
  • Tulisan Teratas

  • Statistik

    • 2,349,634 hits

Kampung Kapitan Memprihatinkan dan Terancam Musnah

Posted by infokito™ pada 20 Februari 2011

Kondisi Kampung Kapitan sebagai salah satu aset bersejarah di Kota Palembang saat ini cukup memprihatinkan dan terancam musnah. Taman dan sejumlah rumah peninggalan yang ada nampak tidak terawat dan terpelihara dengan baik, bahkan lapuk dan berlumut. Pantauan Sripo, perkampungan terletak di tepi Sungai Musi, Kelurahan 7 Ulu, Seberang Ulu I ini terlihat suram dan tidak mencerminkan dalam pemeliharaan. Sekitar 15 rumah peninggalan yang ada, sebagian sudah pindah tangan dan tidak lagi diurusi pewarisnya.

kampung kapitan

Sementara taman yang dibuat Pemkot Palembang beberapa tahun lalu–persis di hadapan rumah yang pernah ditinggali Kapten Tjoa Ham Him–nyaris tertutup rerumputan. Termasuk puluhan lampu penghias taman, separuhnya sudah hilang entah kemana. Satu-satunya, rumah peninggalan yang masih dihuni keluarga keturunan sang kapten ialah rumah seluas 18×50 meter yang ditempati Tjoa Kok Liem atau Kohar bersama beberapa anak dan cucunya. “Saya tidak mau terlalu mencampuri urusan orang lain. Tapi sepengetahuan saya beberapa rumah peninggalan leluhur dulu sudah banyak dijual cucu-cucunya,” kata Kohar, saat dibincangi Sripo, Sabtu (19/2).

Kondisi ini cukup membuat Kohar khawatir akan kelestarian sejarah. Terlebih jika mengingat usianya yang kini sudah 78 tahun dengan penyakit yang diderita. Beruntung masih ada Mulyadi, anak ketiganya yang diharapkan bisa menggantikannya kelak. “Anak saya ada sebelas. Tapi yang tinggal bersama saya hanya beberapa saja termasuk Mulyadi. Sedangkan yang lain ada di Lampung dan juga di Jakarta,” ujarnya.

Dikatakan, rumah yang ditempatinya selama ini usianya sudah lebih dari 400 tahun. Namun baru dua kali direnovasi, itu pun hanya sekadar mengganti genteng, kayu-kayu yang lapuk dan mengecat dinding yang buram. Kendati demikian, Kohar mengaku sudah menghabiskan ratusan juta rupiah lebih untuk biaya perawatan rumah seluas setengah lapangan bola kaki itu. “Sebagai ahli waris sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan merawatnya. Tak pernah terpikir di kepala saya untuk menyerahkannya pada orang lain apalagi menjualnya,” kata Kohar.

Rumah yang ditempati Kohar, merupakan salah satu dari tiga bangunan inti yang menghadap ke sungai Musi. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menjadi penting karena merepresentasikan beragam nilai dan sudut pandang sejarah. Sebab menurut sejarah, rumah itu milik Tjoa Ham Him, warga Tionghoa yang diberi pangkat kapten oleh Belanda dan bertugas mengurus pajak warga dan pengusaha Tionghoa.

“Leluhur kita ini bertanggung jawab atas berlangsungnya kehidupan dan keamanan kawasan Seberang Ulu ini. Dulu, rumah-rumah yang ada di depan rumah kita ini ditempati cucu-cucu beliau. Tapi sekarang umumnya sudah dijual ke orang lain,” kata Kohar.

Dilihat arsitekturnya, rumah tua yang ditempati Kohar beserta bangunan bangunan di Kampung Kapitan, merupakan simbol pembauran budaya China, Melayu, dan Eropa. Sebab bangunan-bangunan tersebut dasarnya berupa rumah panggung. Namun di sisi lain, pilar-pilar yang menjadi penyangganya terkesan khas Eropa. Sementara bagian dalamnya terdapat ruang terbuka yang dilengkapi meja sembahyang untuk tempat dupa dan abu (Tionghoa).

Bangunan rumah kayu dan rumah batu itu juga memiliki fungsi yang berbeda satu sama lain. Sejak dahulu, rumah kayu berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga Kohar. Sedangkan rumah batu, sehari-hari digunakan sebagai tempat sembahyang ia dan warga setempat. Tidak hanya itu rumah-rumah tua di Kampung Kapitan juga memiliki kesamaan ciri. Antara lain, dilengkapi tangga kayu, teras, satu pintu utama, ruang tamu, ruang tengah, ruang terbuka, dan rumah bagian belakang yang posisinya mengapit rumah induk.

Sayangnya, secara umum bangunan-bangunan tua di kampung ini tidak terawat dengan baik. Khusus rumah kayu milik Kohar, misalnya, terdapat puluhan ruas kayu di bagian lantai dan dinding yang tampak sudah lapuk. Bahkan rumah beton yang ada di sampingnya sudah banyak ditumbuhi lumut dan terkesan kumuh. Kondisi ini, menjadi sulit bagi Kohar. Sebab untuk merawat rumah kayu selain membutuhkan biaya mahal, juga sulit mencari jenis kayu yang sesuai untuk mengganti kayu yang lapuk. Apalagi jenis kayu yang menjadi bahan baku utama rumah tersebut umumnya kayu ulen dan trembesi, yang belakangan ini bisa dikatakan semakin sulit diperoleh.

Sampai Mati Saya Rawat
Terlepas dari rasa tanggung jawabnya, Kohar menyadari dia tidak mungkin sanggup jika harus merenovasi rumah-rumah tua tersebut. Apalagi hanya mengandalkan penghasilannya dari usaha dagang kecil-kecilan (produksi pempek). Sementara Kampung Kapitan kini sudah kehilangan “rohnya”. Bahkan sejumlah kendala pun muncul, mulai dari ketidakmampuan secara ekonomi untuk merawat, hingga semakin banyaknya generasi muda setempat, termasuk anak-anak Kohar, yang mulai meninggalkan Kampung Kapitan tua.

Namun, Kohar sepertinya tidak mau dipandang lemah dan menyerah pada keadaan. Dengan kondisinya yang sakit-sakitan, Kohar berjanji akan selalu menyandang nama Tjoa Kok Liem sampai akhir hayatnya. Dengan atau tanpa bantuan orang lain termasuk pemerintah. Ia pun tahu kondisi Kampung Kapitan kian ironis, walaupun sudah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata sungai di Palembang. Sebab, kampung ini nyaris tidak diperhatikan pemerintah.

Menurut dia, Pemkot Palembang pernah berkunjung beberapa kali ke Kampung Kapitan, sembari menjanjikan bantuan perawatan dan renovasi bangunan. Namun, sampai saat ini janji-janji itu tidak pernah terealisasi. “Kalau ngomong mau bantu sering. Tapi sampai sekarang tidak pernah ada buktinya. Tapi tidak jadi pikiran saya, biar saya urus semampu saya,” kata Kohar.

Pemerintah Kota Palembang memang menganggap penting keberadaan Kampung Kapitan. Ini satu alasan mengapa kawasan ini dijadikan salah satu tujuan wisata. Namun, di sisi lain, pemerintah setempat juga belum melakukan hal-hal konkret terkait upaya pelestarian bangunan yang sudah berusia lebih dari 400 tahun itu.

Meskipun sudah berusaha sepenuh daya yang dimilikinya, Kohar seorang tidak mungkin mampu merawat bangunan tua itu selamanya.
Jika ini dibiarkan, barangkali Kohar menjadi generasi terakhir penjaga Kampung Kapitan. Keterlibatan berbagai pihak, terutama pemerintah, jelas diperlukan agar Kampung Kapitan tidak hilang ditelan zaman. (mg1/eko adiasaputro)

4 Tanggapan to “Kampung Kapitan Memprihatinkan dan Terancam Musnah”

  1. zulkifli said

    seharusnya peniggalan sejarah ini kita rawat bersama-sama…………….

  2. Mgs Sudirman said

    Sedih juga ya… seperti hidup segan matipun ta’mau, tempat ini terlalu banyak menyimpan memory hidup thn 70 an tempat kami main sepak bola, main sepeda dulu disini ada pabrik biskuit dan pabrik kecap juga pabrik roti punya orang india panggilannya Nias setelah remaja ditahun 80an berteman dgn salah seorang penghuni disalah satu rumah besar ini beberapa tahun lalu aku kesana mencarinya tapi sekarang sudah pindah namanya Yulan

  3. Budi Harto Setiawan said

    memang kondisi kampung Kapitan sangat memprihatinkan, akan tetapi sebagai salah seorang warga Kampung Kapitan saya melihat adanya sinar terang yang akan menyinari kembali Kampung Kapitan dengan penuh kejayaan dan kemegahan yang pernah disandangnya. Saya akan terus berusaha dan berkoordinasi mendorong BP3 sebagai instansi yang berwenang dan bertanggung jawab untuk pelestarian benda cagar budaya agar lebih serius menangani revitalisasi Kampung Kapitan dengan konsep yang jelas dan terarah baik dari segi fisik, budaya, sejarah maupun sumber daya manusia yang ada di Kampung Kapitan serta akan mencari para donatur,relawan,pengusaha yang peduli dengan Kampung Kapitan ini agar revitalisasi ini akan berjalan dengan garis koordinasi yang jelas dan bersinergi satu sama lian. Pada kesempatan ini juga saya mengajak saudara saudaraku warga Kampumg Kapitan yang sekarang telah menetap diluar kota untuk dapat berpartisipasi aktip dalam bentuk apapun agar kampung kelahiran kita dapat kembali seperti sediakala.

  4. kemala yanti said

    Bapak2 pejabat pemerintah kota Palembang, bagaimana kita bisa menjadikan palembang kota tua yang cantik sekaligus moderen kalau kita tidak pernah memperhatikan kekayaan dan keragaman budaya yang kita miliki, jangan tunggu kampung kapitan musnah baru kita bergerak, pemerintah harus jadi motivator untuk menghidupkan kembali kampung kapitan.Ayo rakyat mendukung pemimpin yang mau memulai…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: