infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Mematahkan Mitos Presiden Suku Jawa

Posted by infokito™ pada 29 Juni 2009

Jawa adalah episentrum politik nasional yang dipenuhi banyak mitos. Salah satu mitos yang ma sih berkembang adalah presiden Indonesia harus bersuku Jawa. Munculnya mitos ini berasal dari ramalan Joyoboyo, pemimpin bangsa Indonesia berasal dari suku Jawa yang akan membentuk istilah Notonagoro, Sang Penata Negara. Istilah Notonagoro diambil dari akhir sukukata dari nama-nama sang presiden: Soekar(no), Soehar(to).

Meskipun nama presiden ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie, telah menggugurkan susunan kata Noto(na)goro, namun mitos presiden suku Jawa tetap mengemuka dalam wacana perpolitikan nasional. Bagi sebagian kalangan masyarakat, mitos ini telah memasung kesadaran dan menumpulkan rasionalitas politik.

Dalam perspektif antropologis, mitos presiden suku Jawa jelas bersifat etnosentris yang menganggap orang Jawa lebih unggul dibandingkan suku-suku lain di Indonesia. Keyakinan mitologis ini diperkuat oleh tiga fakta sosial: (1) struktur demografi Indonesia mayoritas beretnik Jawa sehingga potensial menentukan keterpilihan seseorang menjadi presiden; (2) dominasi suku Jawa di pentas politik nasional dan di dalam struktur kekuasaan negara; dan (3) pengaruh kebudayaan Jawa yang sangat kuat dalam kehidupan politik kenegaraan.

Kuatnya pengaruh kebudayaan Jawa secara simbolis tercermin pada arsitektur bangunan, penggunaan nama untuk gedung bersejarah, pemakaian idiom bahasa, etiket berperilaku, dan berbagai ritus budaya yang lain.

Setelah menganut sistem demokrasi modern, mengapa mitos presiden suku Jawa tetap bersemayam di dalam kesadaran bangsa Indonesia? Suatu keyakinan mitologis sesungguhnya tak berkaitan dengan situasi ketradisionalan atau kemodernan sebuah bangsa. Mitos politik bisa saja dijumpai di kalangan bangsabangsa maju yang menganut sistem demokrasi modern. Bahkan, mitos politik seringkali dijadikan basis legitimasi untuk mengukuhkan dominasi suatu kelompok etnik dalam praktik perpo litikan.

Para ahli antropologi menyebut mitos politik sebagai cultural narrative, untuk menjustifikasi kebermaknaan dan signifikansi sebuah kelompok etnik di pentas perpolitikan nasional. Chiara Bottici menulis, ‘’Human beings need meaning and significance in order to master the world they live in, and political myths are cultural narratives through which human societies orient themselves, and act and feel about their political world’‘ (The Anthropology of Political Myth, Cambridge, 2007).

Dalam perspektif demikian, mitos presiden suku Jawa merupakan bagian dari narasi budaya untuk melanggengkan dominasi politik suku Jawa di pentas nasional dan menempatkan suku-suku lain pada posisi subordinasi belaka. Mitos politik yang bersifat etnosentris ini jelas berlawanan dengan prinsip-prinsip meritokrasi, yang semestinya dijadikan sebagai parameter utama dalam menentukan kelayakan seseorang menjadi pemimpin nasional.

Merujuk pada prinsip-prinsip meritokrasi, dalam memilih seorang presiden seharusnya didasarkan pada rekam-jejak, keahlian dan kecakapan, integritas, dan moralitas. Semua itu sama sekali tak berasosiasi dengan kelompok etnik tertentu. Maka, dalam Pemilu Presiden tanggal 8 Juli 2009 mendatang, bangsa Indonesia ditantang untuk dapat membebaskan diri dari belenggu mitos politik presiden suku Jawa, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Tiga calon presiden Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla adalah pemimpin nasional yang memiliki keunggulan masing-masing dengan karakter pribadi yang berlainan. Megawati dikenal sebagai sosok pemimpin berprinsip, teguh pendirian, dan berhati tegar—sebuah kualitas pribadi yang penting dan diperlukan sebagai faktor perekat yang efektif untuk  menyatupadukan segenap kekuatan bangsa.

SBY dikenal sebagai figur yang menonjol dalam keanggunan personalitas, taat asas, dan selalu menjaga keteraturan—sebuah karakter pemimpin yang dinilai tepat untuk dapat memandu bangsa bekerja tertib, cermat, terukur, dan sistematis.

Jusuf Kalla dikenal sebagai pemimpin autentik, visioner, lincah, dan cekatan yang mampu memecah kebekuan, melenturkan kekakuan aturan, dan berani ambil risiko—sebuah karakter pribadi yang dipandang cocok untuk menjadi pelopor dalam menjemput, bukan mencapai, kemajuan bangsa.

Rasionalitas politik mengajarkan, untuk memilih presiden kita harus meyakini bahwa yang bersangkutan dapat mengemban amanat rakyat, memikul tanggung jawab politik, mampu menjawab segala rupa tantangan: domestik dan internasional, serta mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Momentum Pemilu Presiden 2009 merupakan saat yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk melakukan refleksi mendalam, bahwa yang harus  dipertimbangkan dalam memilih seorang presiden adalah political  credentials, bukan cultural attributions.

Yang pertama ditandai oleh kemahiran, kapasitas, dan kemampuan teknikalitas, yang dipandu oleh pemikiran visioner dalam mengemban tugas-tugas politik pemerintahan dan menunaikan amanat dalam mengelola urusan kenegaraan.

Yang kedua ditandai oleh ketiadaan semua kualifikasi teknokratik, dan digantikan oleh kapitalisasi atribut-atribut budaya dengan cara membangkitkan sentimen primordial untuk memobilisasi dukungan politik. Dalam perspektif demikian, kemunculan Jusuf Kalla sebagai satusatunya calon presiden non-Jawa harus dibaca sebagai ikhtiar politik, untuk mematahkan apa yang dalam kajian antropologi disebut cultural determinism.

Sebagai tokoh non-Jawa, keikutsertaan Jusuf Kalla dalam kontestasi pemilu presiden merupakan fenomena menarik, terutama untuk menguji apakah bangsa ini mampu berpikir melampaui ikatan primordial dalam menentukan pilihan presiden.

Tampilnya seorang tokoh politik dalam pemilu presiden yang bukan berasal dari kelompok masyarakat mayoritas dalam sebuah bangsa majemuk, tentu saja menarik untuk dijadikan bahan kajian. Sebagai perbandingan, tak salah bila kita merujuk pengalaman Amerika dalam pemilihan presiden November 2008 lalu.

Bangsa Amerika berhasil mematahkan mitos politik White Anglo Saxon Protestant (WASP) dalam kontestasi presidensial dengan memilih Barack Obama yang berlatar belakang Afro-Amerika—suatu ke lompok minoritas di tengah dominasi masyarakat kulit putih, yang dalam batas-atas tertentu terkadang masih memelihara sikap rasialis.

Dengan meyakini sistem demokrasi modern dan menjunjung prinsip-prinsip meritokrasi, bangsa Indonesia semestinya juga dapat mengubur mitos presiden suku Jawa.***Amich Alhumami

***disadur dari sebuah tulisan Amich Alhumami (Peneliti Sosial, Department of Anthropology University of Sussex, United Kingdom) pada harian Republika

18 Tanggapan to “Mematahkan Mitos Presiden Suku Jawa”

  1. suhariyani said

    dari nama saja sudah ketahuan saya orang jawa, tapi saya lahir dan besar di Medan. orang tua saya yang notabene jg pujakesuma (putra jawa keturunan sumatera)juga masih memiliki kecenderungan yang sama, dengan persfektif bahwa suku jawa lebih pantas menjadi pemimpin dibandingkan dengan sukuk lain di Indonesia ini.
    tapi tidak demikian dengan saya,menurut saya siapa saja berhak menjadi presiden,selama ia mampu memimpin negara ini dengan arief dan bijaksana. semua kebudayaan di Indnesia itu memiliki dasar – dasar kebajikan dan keluhuran budi pekerti, maka kita tidak bisa semata – mata mengatakan seseorang lebih baik hanya berdasarkan kesukuannya semata.
    terima kasih..

  2. rio said

    bagi saya personal itu hanya sebagai sebuah kebetulan semata..suatu hari pasti indonesia dipimpin oleh presiden non jawa.
    aku yakin itu.
    ga da perbedaan antara presiden jawa atau non jawa
    yang penting bisa membawa indonesia menjadi maju

  3. femmy said

    Presiden suku jawa? coba tengok sejarah awal sebelum merdeka atau awal kemerdekaan, justru pemuda2 sumatera yg naik daun.. mulai dari pengarang buku.. sampai penyair.. mana ada orang jawa.. jawa baru naik daun jaman orde baru pak harto.. sebelumnya.. kelaut aje…pak karnopun bukan jawa tulen.. ibunya dari Bali..

  4. junaedi said

    Sebaiknya suku lain diluar jawa, silahkan mencalonkan diri jadi Presiden, Toh yang menetukan Rakyat, Mudah mudahan rakyat memilih anda, dan kalau yang terpilih masih Orang Jawa kita semua harus berlapang dada, kan rakyat yang milih Coy…….!

  5. ryan masyfu said

    Yang jelas saya asli orang indonesia,menurut saya,pemimpin harus benar memiliki kebijaksanaan yg tinggi.Jadi jika kita jadikan presiden dengan asal saja,padanantinya akan berantakan/kacau.
    PRESIDEN jg harus dari daerah yg adatnya tidak menggunakan kekerasan,kekejaman.karna presiden untuk mengayomi rakyatnya tidak cuma dengan kesejahteraan,tapi,…rakyat bisa merasakan kenyamanan tinggal dinegaranya sendiri.

  6. andi jatmiko said

    ya sebelum nya mohon maaf.soal pemimpin emang cenderung dr jawa.soal nya sejarah pun menulis bhwa kerajaan di jawa tengah,DIY dan jawa timur lah yang mampu menundukkan semua kerajaan di republik ini…karena inti dr indonesia adalah pulau dan suku jawa..kalau bilang soal kehebatan jawa tidak ada tandingan
    Contoh.
    1. Jagah mada
    2.joyo boyo
    3. Ronggo warsito
    4.sultan agung
    5.panembahan senopati
    6.diponegoro
    7.j.sudirman
    8. Bung karno
    9. Soeharto
    10.gusdur
    11.megawati
    12.SBY
    13.RA.kartini
    Dan masih banyak lagi…terus kemana orang luar jawa waktu perang…ngumpet apa?????

  7. SISWOKO said

    SBY di pilih bukan karena jawa tapi karena lebih unngul dari candidate lain. kalo orang jawa kayak Bambang Pamungkas di Adu dengan Jusuf kala jadi Presiden Pasti Jusuf kala 99% terpilih jadi presiden.silahkan sebanyak-banyak orang minang, bugis,batak, aceh dll menjadi candidate presiden kan yang milih presiden bukan cuma orang jawa ya kan?

  8. paimiN said

    jawa anjing tahi asu. BORNEO MREDEKA, MELAYU PRESIDEN, jawa kebanyekan paranormal daripada yang normal, JAWA KOPLAK.

  9. ivan said

    itu si paimin waras ga dia kamu kayaknya dari daerah terpencil ya…ngaku aj bro.kamu.kalah…

  10. joko said

    saya org jawa tapi tinggal di sumatra, yg kebanyakan org melayu tetapi mengapa yang jadi kades org jawa, mengapa org melayu memilih org jawa?

  11. simatupang said

    saya tidak tau juga, emg di akui ato tidak jawa itu pusat kekuatan dari nusantara, bahkan gubernur jenderal deandles pernah bilang, kalau mau mengusai nusatara taklukan jawa dulu, dan taktik itupun hampir berhasil di gunakan pki dengan menyulut ganyang malaysia yang bertujuan mengosongkan jawa

  12. Tamba said

    Dalam rapat rahasia oleh para pendiri negara, itu sebuah perjanjian, bahwa Presiden Indonesia harus Suku Jawa dan beragama Islam, selama masih dalam wadah NKRI.

  13. Kampretz said

    Smbarang ae..
    Pokok e presidene prabowo subianto
    oke

  14. radEnt Sae said

    tak aku wae opo pie seng dadi presiden …..
    kersane sae negoro iki .

  15. aji said

    dalam jangka jaya baya sudah di sebutkan klo satrio piningit akan lahir untuk memeimpin suku jawa umumnya nusantara idonesia.. kd ojo podo ribut, orang jawa adlah suku terahir & yg selamat dri zaman atalantis.

  16. Cheers with the blog post. Learn to halt and also overcome anxiety
    and panic episodes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: