infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Wajik, Tradisi Penyambutan Jemaah Haji

Posted by infokito™ pada 21 Desember 2008

Wajik memang nikmat. Itu setidaknya yang dirasakan masyarakat Desa Tuo Sumay di Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. Makanan ini mereka sebut nasi manis karena manis dan gurih di lidah.

Namun, bukan sekadar karena rasanya yang nikmat itu mereka kerap menikmati wajik. Ada tradisi di sana untuk selalu memasaknya pada setiap acara khusus dan perayaan keagamaan. Pada perayaan Idul Fitri, Idul Adha, serta penyambutan jemaah haji yang berpulang dari Mekkah, mereka menikmati wajik bersama-sama.

Sejak Rabu (17/12) pagi, para ibu di Desa Tuo Sumay telah berkumpul di rumah Masturah lalu. Sebuah wadah penggorengan besar disiapkan untuk membuat wajik. Menurut Khodijah, warga setempat, mereka menyambut kedatangan Masturah setelah dirinya kembali dari menunaikan ibadah haji di Mekkah.

”Ibu Masturah dan beberapa orangtua di sini kembali dari ibadah haji dengan selamat. Karena itu, kami menyambutnya sebagai tanda sukacita kami,” ujar Khodijah.

Proses pembuatan wajik cukup panjang, diawali dengan menanak ketan putih. Selanjutnya, gula merah, gula putih, dan santan direbus dengan menggunakan api dari kayu bakar. Proses pemasakan gula dan santan memakan waktu sekitar lima jam.

Setelah mengental, hasilnya dicampurkan pada ketan. Jadilah wajik kegemaran masyarakat Tuo Sumay. ”Wajik itu salah satu makanan khas di sini, selain dodol ketan. Kami menyukainya,” tuturnya.

Menurut Halik, warga lainnya, tradisi penyambutan semacam ini berlangsung setiap tahun. Sejak lima tahun terakhir, banyak warga yang mencapai tingkat kesejahteraan memadai sehingga lebih memungkinkan bagi mereka untuk naik haji.

Ini seiring harga sawit yang tinggi. Sawit yang semula hanya berkisar Rp 5000 per kg, terus naik dan sempat mencapai Rp 1.600 per kg. Hanya belakangan ini saja harga sawit merosot.

”Kalau dulu, belum tentu setahun sekali kami bisa menggelar tradisi penyambutan seperti ini. Tapi, sekarang menjadi rutin karena setiap tahun selalu ada warga yang berangkat ke Mekkah. Bahkan jumlahnya semakin banyak,” tuturnya.

Tidak hanya acara penyambutan pasca kepulangan ibadah haji, masyarakat juga menggelar pesta adat sebelum mengantar warga berangkat beribadah. Hanya saja, acara syukuran ini digelar lebih besar-besaran.

Calon jemaah yang akan berangkat biasanya juga memotongkan kerbau untuk disantap oleh masyarakat setempat. Mereka kemudian berdoa bersama-sama untuk memohon keselamatan bagi calon jemaah haji di desa itu. (ITA/kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: