infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Anggota DPRD Sumsel Bagi-Bagi Tanah

Posted by infokito™ pada 21 November 2008

Entah apa yang ada di benak kalangan DPRD Sumatera Selatan (Sumsel). Di tengah krisis ekonomi yang turut melanda jutaan warga Sumsel, mereka justru membuat kebijakan yang tak populis.

Bagaimana tidak, sebanyak 75 anggota DPRD Sumsel periode 1999– 2004, baik yang saat ini masih menjabat maupun yang tidak, akan mendapat jatah satu kaveling tanah. Ukurannya sekitar 300 m2 per orang atau seluas 15×20 meter, di kawasan Jakabaring, Palembang, tepatnya di depan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ).

Selain itu, 65 anggota Dewan periode 2004–2009 bakal menerima uang Rp3 miliar lebih. Uang dan tanah tersebut dimaksudkan sebagai tunjangan purnabakti bagi anggota DPRD Sumsel. Jika uang Rp3 miliar tersebut dibagi rata untuk 65 orang anggota Dewan, maka satu orang anggota Dewan bakal menerima dana sekitar Rp46,1 juta.

Wakil Ketua DPRD Sumsel Elianuddin HB mengatakan, khusus dana tunjangan purnabakti yang diberikan kepada 65 anggota DPRD Sumsel periode 2004–2009 tersebut, nantinya akan dianggarkan dalam APBD Sumsel 2009 yang dimasukkan pada pos anggaran sekretariat Dewan (sekwan).

“Itu ada hitung-hitungannya. Yang didapat masing-masing anggota Dewan berbeda, sesuai lama masa baktinya di DPRD Sumsel,” kata Elianuddin di ruang kerjanya kemarin.

Khusus untuk dana tunjangan purnabakti tersebut, lanjut politikus PDIP ini, diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No37/ 2006 tentang Perubahan Kedua atas PP No 24/ 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD.

Menurut Elianuddin, sebelumnya anggaran yang diperuntukkan bagi tunjangan purnabakti anggota DPRD Sumsel tersebut belum dianggarkan dalam APBD 2009. Namun, kemudian terjadi pergeseran pada pos anggaran sekwan dengan kemungkinan mengurangi anggaran pada beberapa satuan kerja perangkat dinas (SKPD) Provinsi Sumsel.

DPRD Sumsel juga memberikan tanah kepada 75 orang anggota DPRD Sumsel untuk periode 1999–2004 yang masing-masing anggota Dewan mendapat jatah tanah seluas 15×20 meter atau 300 m2 yang terletak di kawasan Jakabaring.

“Pembagian tanah tersebut sebetulnya sudah sejak zaman Gubernur Rosihan Arsyad. Saat ini pihak eksekutif diminta segera merealisasikan sertifikat tanahnya agar tidak diganggu pihak lain lagi,” ucap Elianuddin.

Pemberian tanah tersebut, menurut dia, tidak hanya untuk para anggota Dewan, tapi pihak eksekutif, khususnya eselon II Pemprov Sumsel, juga mendapat pembagian tanah di kawasan Jakabaring, Palembang. Hal itu telah diatur dalam perda Provinsi Sumsel sejak lama.

Sementara itu, siang kemarin kalangan DPRD Sumsel menggelar rapat pimpinan (rapim) bersama sejumlah staf ahli DPRD dan beberapa anggota DPRD Sumsel periode sekarang yang pada tahun sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan.

Agenda rapim kemarin khusus membahas pembagian tanah bagi anggota DPRD Sumsel periode 1999–2004 tersebut. Ketua DPRD Sumsel Zamzami Achmad membenarkan bahwa pihaknya kemarin menggelar rapat mengenai keberadaan dan status tanah milik anggota DPRD Sumsel periode 1999–2004.

“Rapat tadi (kemarin) membahas mengenai tanah anggota Dewan periode 1999- 2004 yang sampai saat ini tak diketahui keberadaannya dan belum ada sertifikatnya itu,” ujar Zamzami tadi malam.

Dia membantah tanah yang terletak di kawasan Jakabaring tersebut merupakan pemberian pemerintah kepada 75 anggota Dewan. Menurut dia, tanah tersebut awalnya memang milik pemerintah, tapi telah ditukargulingkan kepada pihak kontraktor Amien Mulia. Namun, Zamzami mengaku tak mengetahui luas keseluruhan tanah tersebut.

“DPRD beli dan membayar tanah itu ke Amien Mulia menggunakan dana pribadi anggota Dewan,” tandas Zamzami sembari memutus pembicaraan.

Sementara itu, mantan anggota DPRD Sumsel periode 1999–2004 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yuswar Hidayatullah mengatakan, proses pembelian tanah anggota DPRD Sumsel tersebut terjadi pada 2001. Saat itu, terjadi tukar guling tanah milik pemerintah dengan pihak Amien Mulia. Proses tukar guling itulah yang hingga kini masih bermasalah antara pemerintah dan pihak Amien.

Yuswar menjelaskan, saat itu ada niat dari DPRD Sumsel untuk membantu pendanaan PON XVI 2004, yang mana Sumsel sebagai tuan rumahnya. Seluruh anggota Dewan periode tersebut membeli tanah yang telah ditukargulingkan ke kepada pihak swasta sesuai kemampuan masingmasing anggota Dewan.

“Ada yang membeli lebih dari satu kaveling tanah dan ada yang langsung mendirikan bangunan di atasnya. Kalau saya, saat itu membeli dengan cara kredit karena tak mampu beli kontan,”ujar Yuswar. Meski demikian, dia tak ingat berapa harga tanah yang dibelinya kala itu. Namun, Yuswar menekankan kembali bahwa tanah-tanah tersebut dibeli masing-masing anggota DPRD Sumsel dengan dana pribadi, meski luas dan sistem pembayarannya berbeda.

Ditemui terpisah, pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Alfitri menilai, politik anggaran dengan memberi penghargaan berupa uang dan tanah kepada seluruh anggota Dewan yang menjabat pada periode 1999–2004 dan periode 2004– 2009 tersebut waktunya belum tepat. Alasannya, hal-hal seperti itu tak menunjukkan adanya sense of crisis dari anggota Dewan terhadap kondisi keuangan negara saat ini yang sedang terkena dampak krisis keuangan global.

“Anggota Dewan kan sudah mendapat honor yang cukup besar. Mereka juga harus memberi pelajaran kepada publik. Toh mereka menjadi anggota Dewan idealnya merupakan panggilan nurani,” kata Alfitri.

Direktur Eksekutif Kaganga Institute ini juga menilai, bila memang pemberian tunjangan purnabakti apa pun bentuknya itu jadi dilakukan, tak akan mengubah paradigma publik terhadap kerja Dewan yang dinilai hanya untuk memperkaya dirinya pribadi.

Alfitri menyarankan, sebaiknya tunjangan purnabakti berupa penghargaan tersebut diberikan hanya kepada anggota Dewan yang benar-benar dinilai memperjuangkan kepentingan rakyat. Jangan dipukul rata. “Metode seperti ini akan memacu kinerja anggota Dewan lainnya. Masih ada kok Dewan yang bekerja sesuai hati nurani, meski hanya segelintir,” ujar Alfitri.

Dengan dijadikannya kinerja anggota Dewan sebagai ukuran pemberian penghargaan itu, lanjut dia, tentu akan menguntungkan masyarakat, dalam hal ini yang benar-benar diperjuangkan kepentingannya di parlemen oleh para wakil rakyat itu. (dedy sagita)

***Harian SINDO

2 Tanggapan to “Anggota DPRD Sumsel Bagi-Bagi Tanah”

  1. NUR AZIS said

    sunggu satu tindakan yang sangat ironis, disaat masyarakat berusaha ingin melepaskan diri dari kemiskinan, pemerintah dalam hala ini adalah DPRD yang juga sebagai wakil rakyat malahan sibuk berbagi tanah ria.

    wahai semua anggota legislatif, ambil, ambil, ambil dan puaskan perut anda dengan harta rakyat.

    biarlah pengadilan tuhan yang akan membalas segala keserakahan anda….

    tidak kah anda semua takut dengan hari pembalasan nanti…
    dimana skecil apapun yang anda perbuat akan dimintai pertanggung jawabannya…

    anda terus mengenyangkan perut anda, sementara diluar sana banyak rakyat yang kelaparan…

    tidak takutkah anda akan do’a para rakyat yang dizolimi…
    sesungguh tidak ada hijab antara orang yang di zalimi dengan alloh,
    maka takutlah wahai orang-orang yang zalim akan do’a orang-orang yang terzalimi,
    karna itu semua adalah awal kehancuran anda…

  2. tia jabrik said

    Saya melihat dari sudut pandang berbeda denganpara komentar di atas. menurut saya suatu hal yang wajar saja jika diberikan uang purna bakti, ini penghargaan atas telah bekerja di lembaga tertinggi. siapapun yang berkomentar di atas pasti menharapakan ini ketika dia punya kesempatan duduk di DPR, DPRD. Tetapi sangat disayangkan mereka ini baik kemampuan maupun kesiapannya saya yakin belum bisa di ketengahkan. emosional saja. coba berpikir sedikit dewasa untuk menyikapi hal-hal yang seperti ini, saya pribadi tidak mempunyai kepentingan dengan semua ini tetapi sedikit risih dengan komentar asal bunyi di atas. terimakasih bapak-bapak di DPR yang telah melaksanakan tugas dengan baik dan kepada yang tidak baik segera bertobat dan perbaiki kinerja anda menghadapi sisa hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: