infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Modal Pelek Sepeda, Listrik Mengalir ke Kampung

Posted by infokito™ pada 27 Juli 2008

Warga Lampung yang baru saja memiliki PLTU Tarahan Baru berkapasitas 2 x 100 megawatt ternyata tidak sepenuhnya bisa menikmati listrik dari PLN. Terutama warga Kampung Bangun Rahayu, Kelurahan Sukarame II, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung, karena letaknya di kawasan hutan atau jauh dari kawasan transmisi sehingga belum teraliri listrik.

Namun, warga kampung yang terletak di lereng Gunung Betung, sekitar 20 kilometer perjalanan menuju arah barat dari pusat kota Bandar Lampung itu, penuh semangat untuk menikmati listrik. Bahkan, sejak kampung itu dibuka tahun 1980-an dan mulai berkembang pada 1990-an, warga sudah meminta PT PLN Wilayah Lampung menyalurkan listrik ke kampung mereka.

Namun, PLN tak pernah melirik kampung itu dengan berbagai dalih. Akhirnya, Acang Sutima (60), sesepuh kampung, menggagas listrik tenaga kincir air yang mampu menggerakkan turbin sederhana dan menghasilkan daya 2.300 watt dengan modal pelek sepeda.

”Usaha kami meminta-minta ke PLN sudah mentok, tapi kami terus berusaha mencari cara supaya kampung tidak gelap,” ujar Abah Acang, panggilan Acang Sutima.

Upaya mencari jalan terang itu pun sempat mendapat penolakan 10 dari 15 kepala keluarga di kampung itu. Mereka berpendapat ide memproduksi sendiri listrik itu sangat tidak mungkin.

Pada Maret 2006, setelah berembug dan bersama-sama mengumpulkan modal, lima dari 15 kepala keluarga yang setuju dengan ide Abah Acang bahu-membahu mengerjakan pembangkit listrik tenaga kincir air.

Kebetulan, sekitar 200 meter di bawah kampung itu mengalir Way Jernih. Sungai berarus deras itu mengalir dari puncak Gunung Betung menuju wilayah Bandar Lampung.

Usaha membuahkan hasil

Dalam tempo sebulan, lima kepala keluarga itu di bawah pimpinan Abah Acang, yaitu Wasam, Desuki, Soleman, dan Adnan, berhasil membendung Way Jernih. Bendungan setinggi 2 meter, panjang 20 meter, dan lebar 15 meter terbuat dari tumpukan karung-karung berisi pasir pun dibangun. Sebagai saluran air untuk menggerakkan kincir kayu, kelima kepala keluarga itu menggunakan talang bambu yang ditutup dengan karpet plastik.

Pada akhir Maret 2006, upaya itu berhasil menyalakan satu titik lampung berkekuatan 5 watt di rumah Abah Acang. ”Waktu itu nyalanya kecil sekali,” ujar Abah Acang.

Melalui percobaan dan kesalahan yang terjadi, kelima kepala keluarga itu akhirnya mampu memproduksi sendiri listrik untuk kampung mereka. Sekitar lima rumah dilayani listrik berkekuatan 2.300 watt itu.

Satu rumah bisa memiliki delapan lampu, masing-masing berkekuatan 10-20 watt. Warga kini juga sudah bisa menikmati tontonan televisi atau memasak nasi dengan panci pemasak nasi. ”Hal yang hebat yang sebelumnya tidak pernah kami pikirkan,” ujar Desuki, satu dari lima kepala keluarga yang mendukung upaya produksi listrik sendiri.

Menurut Abah Acang, ide membuat kincir air datang dari pengalamannya selama bekerja sebagai buruh tani di Rangkasbitung, Banten. Sawah-sawah di wilayah itu rata-rata menggunakan kincir air untuk menaikkan dan mengalirkan air dari saluran air ke sawah.

”Saya pikir, kalau ditambah dengan pembangkit sederhana yang digerakkan oleh putaran roda, sudah pasti akan menghasilkan listrik,” ujarnya. (HLN/kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: