infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Sistem Deteksi Longsor Temuan UGM Dicuri

Posted by infokito™ pada 21 Juli 2008

Sistem deteksi bencana longsor temuan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang sedang dalam proses paten dijiplak atau dicuri negara besar di kawasan Asia. Bahkan, negara tersebut langsung membuat alat, mematenkan, dan menjualnya pada awal tahun 2008.

Proses paten di Indonesia yang sangat lama menjadi salah satu penyebabnya. “Sering kali proses paten suatu temuan lebih sulit dibandingkan penelitian yang dilaksanakan. Padahal, paten menjadi sangat penting agar hasil penelitian bisa terlindungi dari pencurian,” kata dosen dan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Faisal Fathani, Sabtu (19/7).

Faisal mengatakan, sistem deteksi dini bencana longsor tersebut merupakan hasil temuan tim peneliti dari Jurusan Teknik Sipil, Geologi, Fisika, dan Elektro UGM. Alat ini pun sudah dipasang di 12 lokasi rawan longsor di Pulau Jawa.

Tahun ini, UGM akan memasang enam unit alat tersebut di daerah rawan longsor Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, serta di daerah rawan longsor Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

Dipamerkan

September 2007, kata Faisal, ketika sejumlah peneliti dari suatu negara di kawasan Asia datang ke Indonesia, alat yang sedang dalam proses paten tersebut dipamerkan. Namun, Januari 2008, tiba-tiba saja alat tersebut sudah diproduksi negara itu dengan ukuran yang lebih kecil. Bahkan, alat tersebut sudah dipatenkan sehingga UGM tidak bisa menggugat karya mereka.

“Rupanya di negara tersebut proses paten berlangsung cepat, sedangkan di Indonesia butuh waktu tiga tahun,” ujar Faisal. Pencurian ide tersebut, lanjut Faisal, juga membuktikan betapa erat hubungan antara perguruan tinggi dan industri di luar negeri. Adapun di Indonesia, aneka alat canggih hasil penelitian perguruan tinggi hanya bisa bekerja sama dengan industri rumah tangga.

Peneliti UGM, Dwikorita, menambahkan, alat ini sudah teruji efektif pada November 2005 di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Alat dipasang melintang di antara rekahan dan terhubung dengan sirene yang akan meraung ketika curah hujan melebihi ambang batas aman. “Sebelum longsoran terjadi, alat sudah meraung sehingga 40 keluarga terselamatkan,” kata Dwikorita.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal, lamanya proses paten diperlukan agar hasil penelitian bisa terlindungi. Peneliti Indonesia juga menghadapi kendala lain berupa rendahnya produktivitas jurnal atau artikel penelitian ilmiah di tingkat internasional.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, para peneliti harus mulai mempertimbangkan publikasi internasional terhadap materi-materi penelitian yang khas Indonesia. (WKM/Kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: