infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Sarjan Taher Ditahan KPK

Posted by infokito™ pada 3 Mei 2008

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan anggota Komisi IV DPR Sarjan Taher dalam kasus dugaan korupsi alih fungsi hutan bakau menjadi Pelabuhan Tanjung Api Api di Sumatera Selatan.

Sarjan Taher ditahan di Rumah Tahanan Polres Jakarta Utara, setelah diperiksa sebagai tersangka selama 11 jam di Gedung KPK Jakarta kemarin. Sebelum masuk mobil tahanan sekitar pukul 21.30 WIB tadi malam, Sarjan yang merupakan anggota Fraksi Partai Demokrat tidak bersedia memberi keterangan kepada wartawan. Dia didampingi penasihat hukumnya, Dahlan Kadir saat keluar dari ruang pemeriksaan.

”Saya hargai KPK,” ujar Sarjan sambil memasuki mobil tahanan. Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan Chandra M Hamzah mengatakan, Sarjan telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 27 Februari lalu, saat KPK meningkatkan kasus ini ke tahap penyidikan. Dia disangka melanggar pasal 12 a dan e atau pasal 11 Undang-Undang (UU) No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dia diduga menerima gratifikasi berupa uang dalam proses alih fungsi kawasan hutan bakau di Banyuasin. Namun Chandra belum bersedia mengungkapkan jumlah uang yang diterima Sarjan. Chandra juga belum bersedia mengungkapkan pemberi uang dan statusnya.

”Dalam proses alih fungsi ada aliran dana. Untuk sementara (tersangka) satu orang dulu,” kata Chandra. Deputi Penindakan KPK Ade Rahardja mengatakan, dalam kasus ini tercatat sudah ada enam anggota Komisi IV yang mengembalikan uang ke KPK.

Namun, dia tidak bersedia menyebut nama-nama penerima. Empat anggota dewan mengembalikan uang sesaat setelah menerima. Jumlah uang yang dikembalikan saat ini masih dalam penghitungan KPK. Hingga kini, KPK juga belum memastikan konsekuensi hukum bagi penerima. ”Kita masih akan evaluasi,” kata Ade.

Kemarin, penyidik KPK juga memeriksa anggota Komisi IV yaitu Tamsil Linrung dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan Imam Suja dari Fraksi Partai Amanat Nasional. Keduanya diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan teman satu komisi mereka. Tamsil yang ditemui usai pemeriksaan, kemarin sore, mengaku pernah menerima uang dari seseorang yang tidak dikenalnya.

Tamsil yang tidak termasuk dalam tim pengalihan kawasan hutan bakau di Banyuasin mengaku tidak tahu jumlah uang yang diterimanya tahun lalu. Belakangan, uang itu dikembalikan ke KPK melalui fraksinya. ”Kami kembalikan ke fraksi dan fraksi yang menindaklanjuti,” ujar Tamsil.

Menurut Tamsil, pengalihan kawasan hutan lindung sepenuhnya diserahkan pada tim independen yang terdiri dari Departemen Kehutanan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta akademisi dari Institut Pertanian Bogor. ”Hasil kajian tim independen itu yang menjadi acuan Komisi IV apakah usulan alih fungsi itu dapat diberi rekomendasi atau tidak,” jelasnya.

Dia membenarkan, hingga saat ini Komisi IV belum pernah memberi rekomendasi terhadap permintaan alih fungsi kawasan hutan bakau. Namun, berdasarkan diskusi diskusi di Komisi IV, ujar Tamsil, usulan itu disetujui.

”Tapi prinsipnya kalau tim independen menyatakan hal itu layak maka kami berpendapat layak untuk dipedomani,” katanya.

Dia menambahkan, mekanisme pengambilan keputusan di komisi untuk memberi rekomendasi bersifat kolektif. Dia pun memastikan mekanisme pembahasan di komisi tidak bermasalah. Menurutnya, pihak yang memiliki otoritas dalam proses pengalihan adalah Departemen Kehutanan.

”Semua dilakukan melalui mekanisme,” jelasnya.

Seusai diperiksa, Imam Suja berpendapat sama dengan Tamsil mengenai mekanisme pengalihan kawasan hutan bakau di Banyuasin. Imam juga mengaku pernah menerima uang dan telah diserahkan ke KPK.

”Saya lupa kapan. Sudah saya kembalikan, berupa cek perjalanan,” katanya. Dia juga membenarkan bahwa pemberian dari orang yang tidak dikenalnya berlangsung di ruang komisi. Namun dia membantah uang itu dibagi-bagikan oleh Sarjan kepada seluruh anggota Komisi IV.

Beberapa hari lalu, penyidik KPK telah memeriksa Kristina, istri anggota Komisi IV Al Amin Nur Nasution yang menjadi tersangka dugaan suap dari Sekretaris Daerah Bintan, Kepulauan Riau Azirwan dalam kasus ini.

Tidak diketahui jelas keterlibatan Kristina dalam kasus ini. Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun di KPK, Al Amin juga terlibat dalam kasus pengalihan kawasan hutan bakau di Banyuasin. Seperti diberitakan, KPK telah lama menyidik dugaan korupsi pengalihan kawasan hutan bakau di Banyuasin.

Kawasan hutan bakau seluas 600 hektare dialihkan menjadi Pelabuhan Tanjung Api Api. Pengalihan kawasan hutan ini sempat diprotes oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Sumatera Selatan karena dinilai merusak ekosistem. Sementara itu, juru bicara DPP Partai Demokrat Max Sopacua mengatakan, selain Sarjan Taher, ada dua anggota Fraksi Partai Demokrat yang ikut dalam kunjungan kerja meninjau lokasi pengalihan hutan bakau menjadi pelabuhan di Banyuasin Sumatera Selatan.

Dua anggota fraksi yang dimaksud adalah Indria Muaja, dan Nuraeni Andi Barung. Namun, Max enggan berspekulasi keduanya juga terlibat dalam kasus yang telah membawa Sarjan Taher ke tahanan. Dia mengimbau agar semua pihak tidak membuat spekulasi yang memojokkan.

”Kami tidak mau berandai-andai atas persoalan itu,” ujarnya kepada SINDO tadi malam. Dia menegaskan partainya tidak akan pernah mencampuri proses hukum oleh KPK atau aparat hukum lainnya. Jika dalam proses selanjutnya ada anggota FPD yang divonis bersalah, pihaknya akan memberikan sanksi sesuai aturan partai. (rijan irnando purba/ hermansah)***SINDO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: