infokito

Portal Palembang – Jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Penganut Ahmadiyah: Mereka Ingin Tetap Islam

Posted by infokito™ pada 21 April 2008

Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) telah mengeluarkan rekomendasinya, yaitu menghentikan kegiatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang penghentian kegiatan itu pun sedang disusun. Menjelang pemberlakuannya, para penganut Ahmadiyah menyatakan mereka ingin tetap dinyatakan Muslim.

Di berbagai daerah dan berbagai level kepengurusan JAI, Republika mendapati pernyataan yang sama, yaitu menolak dikategorikan non-Muslim. ”Kalau kami disuruh membakar kitab Tadzkirah, akan kami lakukan. Tapi, kalau disuruh membakar Alquran, nanti dulu,” kata Juru Bicara JAI, Sjamsir Ali, yang ditemui Republika di sela silaturahim JAI di Denpasar, Bali, Ahad (20/4).

Sesepuh Ahmadiyah Manis Lor, Kec Jalaksana, Kab Kuningan, Jawa Barat, Kulman Tisnaprawira, mengatakan ajaran Ahmadiyah sama dengan ajaran Islam. Kendati Ahmadiyah memiliki nabi baru dan kitab baru yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan Tadzkirah yang tak dikenal dalam ajaran pokok Islam, dia berkilah, ”Ahmadiyah hanya sebuah organisasi, bukan agama.”

Warga Ahmadiyah di Cimahi, Ali Husein, mengatakan dia dan warga Ahmadiyah lainnya tetap berpegang kepada Alquran. Karena itu, dia menolak disebut non-Muslim. ”Kami menjalankan sesuai Alquran,” ujar Ali Husein saat ditemui menjelang shalat Jumat di Cimahi, pekan lalu.

Tapi, masalahnya, ajaran Ahmadiyah tak sesuai dengan pokok ajaran Islam. Ketidaksesuaian itu didapati lewat pemantauan lapangan. Selama tiga bulan, Bakorpakem memantau 55 komunitas JAI di 33 kabupaten/kota. Sebanyak 35 anggota pemantau yang dipimpin Ketua Badan Litbang dan Diklat Depag, Prof Atho Mudzhar, mewawancarai 277 anggota jemaat Ahmadiyah.

Semula, karena tetap ingin disebut Muslim, JAI diberi kesempatan menjelaskan 12 poin pokok keyakinan dan kemasyarakatan warga JAI. Ke-12 poin itu telah dirapatkan. Bila merujuk ke-12 poin itu kendati dinilai sejumlah tokoh Islam sarat permainan kata ajaran Ahmadiyah tak menyimpang. Ternyata, di lapangan, ”Semua cabang menyebut Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi,” kata Atho.

PB JAI menyatakan Mirza Ghulam Ahmad hanya seorang guru, tapi di lapangan diakui nabi. PB JAI juga menyatakan Tadzkirah hanya catatan pengalaman rohani Mirza. Nyatanya, di lapangan diakui sebagai kitab suci. ”Dari hasil pantauan kami, mereka mengatakan tidak akan mengubah atau memperbaiki hal-hal fundamental itu,” ungkap Atho, pekan lalu.

Atho menilai pemantauan tersebut sudah cukup serius. Satu pemantau rata-rata melakukan pengamatan tujuh hari di satu titik. Ada yang sampai menginap di komunitas itu. ”Teknisnya silaturahim, wawancara, dan mengamati kegiatan keseharian mereka. Kita ikut shalat dengan mereka, shalat Jumat bersama, mendengar adzan mereka, dan sebagainya. Ditambah dengan pengumpulan data-data,” katanya.

Karena warga Ahmadiyah menyatakan tak akan mengubah hal-hal fundamental itu, Bakorpakem menyimpulkan Ahmadiyah menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. Hal itu dinilai Bakorpakem dapat menimbulkan pertentangan dalam masyarakat yang bisa mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. Rekomendasi Bakorpakem tegas, yaitu memberi teguran keras dan meminta JAI menghentikan kegiatan.

Lantas, apa langkah JAI? Sjamsir Ali mengatakan acara silaturahim–yang dibuat setelah musyawarah kerja nasional (mukernas) tak diizinkan Polda Bali–telah membahas berbagai langkah antisipasi. ”Ada tiga rumusan langkah yang kami buat, termasuk bila JAI menghadapi kondisi paling buruk,” kata Sjamsir.

Warga Ahmadiyah di tingkat bawah, saat ini sedang menunggu instruksi dari Pengurus Besar (PB) JAI. ”Kami tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kami akan menunggu keputusan dari pimpinan pusat,” kata Uba Subalantara, tokoh Ahmadiyah di Desa Manis Lor.

Sampai kemarin, personel kepolisian dari Polres Kuningan tampak berjaga-jaga di setiap sudut Desa Manis Lor. Bahkan, sewaktu-waktu petugas juga melakukan patroli di jalan-jalan desa yang menjadi pusat komunitas terbesar jemaat Ahmadiyah di wilayah III Cirebon itu. Pengamanan itu untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gejolak keamanan seperti Desember 2007 lalu.

Saat itu, ribuan warga yang menghendaki pembubaran Ahmadiyah terlibat bentrok fisik dengan jemaat Ahmadiyah. Selain kerusakan sejumlah bangunan fisik milik jemaat Ahmadiyah, insiden itu mengakibatkan beberapa warga terluka akibat sabetan senjata tajam. Di Manis Lor, warga Ahmadiyah memang mayoritas. Jumlah mereka 3.300 dari sekitar 4.500 penduduk.

Sementara itu, di berbagai daerah, kantor-kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai membuka diri kepada warga Ahmadiyah yang ingin kembali kepada ajaran yang benar (ruju ‘ilal haq). ”Kita berharap mereka bertobat, meninggalkan ajaran nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, dan kembali kepada ajaran Islam sesuai Alquran dan Hadis,” kata Ketua MUI Nusa Tenggara Barat, Prof Syaiful Muslim, seperti dikutip kantor berita Antara.

NTB adalah daerah dengan penganut Ahmadiyah terbanyak selain Manis Lor. Di seluruh NTB, menurut Syaiful, ada sekitar 180 penganut Ahmadiyah. Sebanyak 33 kepala keluarga (KK) atau 130 jiwa mendiami Mataram, ibu kota NTB. Sebanyak 50 jiwa lainnya berada di Lombok Tengah. ” Sebelumnya, Bakorpakem telah menawarkan opsi kepada Ahmadiyah untuk menjadi agama sendiri. Sebab, bagaimana mungkin mereka mengaku Muslim, tapi ajarannya berbeda? aas/lis/osa/rfa

http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=331099&kat_id=3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: