infokito

jembatan informasi dari kito untuk kito bersamo

Al Munawar dan Cagar Budaya Palembang

Posted by infokito™ pada 17 Oktober 2007

SEJUMLAH kalangan mengingatkan pemerintah, dalam hal ini pemkot dan pemprov, bahwa Kampung Al Munawar, sebuah Kampung Arab yang terletak di kawasan 13 Ulu, yang rencananya akan dijadikan lokasi pembangunan Jembatan Musi III merupakan cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

”Di satu sisi, wali kota ingin mengembangkan wisata. Namun di sisi lain, kebijakannya membangun Jembatan Musi III justru menggusur Kampung Al Munawar yang merupakan obyek wisata sejarah. Ini sesuatu yang ironis dan sangat kontradiktif,” kritik pengamat sosial Universitas Sriwijaya, Alfitri.

Alfitri mengkhawatirkan, bila pemerintah memaksakan diri membangun Jembatan Musi III di lokasi Kampung Al Munawar ini, maka pemerintah akan berhadapan dengan rakyat yang tidak mau melepaskan rumah dan lahannya. ”Kalau wali kota memaksakan di lokasi yang saat ini, saya khawatir akan terjadi bentrok sosial,dan itu bisa berbahaya,” ujarnya.

Menurut Alfitri, dilematisnya proyek pembangunan Jembatan Musi III ini merupakan satu lagi contoh nyata sebuah proyek pembangunan yang dilaksanakan tanpa kajian atau studi yang memadai.Selain itu, perencanaan sebuah pembangunan tidak pernah melibatkan partisipasi masyarakat.

”Karena itu, harus dicarikan solusi yang saling menguntungkan melalui studi kembali yang lebih mendalam dan komprehensif, dengan melibatkan akademisi, arkeolog, masyarakat, dan tenaga ahli lainnya,” papar Alfitri.

Sementara itu, arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang Retno Purwanti menegaskan, Kampung Al Munawar termasuk salah satu cagar budaya yang ada di Sumsel. Kampung Al Munawar merupakan pemukiman lama yang mewakili pola tata ruang kampung atau pemukiman masyarakat Palembang pinggiran sungai tempo dulu, tepatnya di tepian Sungai Musi dan Sungai Ketemenggungan, yang usianya diperkirakan antara 250–300 tahun. ”Dari penelitian saya di lapangan, di beberapa rumah di Kampung Al Munawar, saya temui ada tulisan yang menyebutkan tahun pembuatan rumah-rumah di sana, yaitu sekitar abad 19 yang lalu,” papar Retno.

Mengingat Kampung Al Munawar tersebut merupakan cagar budaya dan situs budaya yang sangat penting, Retno meminta agar rencana pembangunan Jembatan Musi III jangan sampai menggusur kawasan tersebut. Apalagi, cagar budaya tersebut sudah dilindungi berdasarkan UU No 5/1992. ”Jadi kalau pemerintah memaksakan, berarti melanggar UU No 5/1992 tersebut. Itu ada sanksinya,” tegas Retno.

Di kompleks pemukiman ini, terdapat paling sedikit delapan rumah yang usianya diperkirakan lebih dari satu abad. Salah satunya, rumah pemukim Arab pertama di Kampung 13 Ulu, Habib Abdurrahman Al Munawar. Di kampung ini, juga terdapat rumah Kapten Arab. Tidak jelas siapa Kapten Arab pertama. Yang jelas, Kapten terakhir yang wafat pada tahun 1970 adalah Ahmad Al Munawar. Sapaan keseharian tokoh ini adalah Ayip Kecik. (sindo/infokito)

2 Tanggapan to “Al Munawar dan Cagar Budaya Palembang”

  1. nal said

    Sayang ya, bangunan yang sudah berumur ratusan tahun akan lenyap, hilang oleh sebuah kepentingan. Kita mau cerita apa? pada generasi kita bahwa di kawasan 13 Ulu Palembang ada perkampungan Arab yang yang sudah berumur ratusan tahun? Apakah mereka sudah lupa dengan pesan Presiden pertama RI”Bangsa yang besar adalah Bangsa yang tidak melupakan SEJARAH nya”Belajarlah dari Sejarah jangan jadi Majapahit ke dua.

  2. annisa said

    sangat di sayangkan sekali , seharusnya dilestarikan cagar budya dipalembang yang memiliki sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: