Palembang resmi mendapatkan piala Adipura yang ketiga kalinya pada tahun 2009 ini. Surat pemberitahuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sudah diterima Pemkot Palembang. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang, Drs H Marwan Hasmen MSi, Kamis (4/6) membenarkan Pemkot sudah menerima pemberitahuan tersebut.
Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘lingkungan’
Palembang Raih Adipura Ketiga
Posted by infokito™ pada 5 Juni 2009
Ditulis dalam Palembang | Bertanda: Adipura, lingkungan, Lingkungan Hidup | 1 Komentar »
Sungai Sekanak akan Menjadi Pilot Project Sanitasi Massal
Posted by infokito™ pada 1 Januari 2009
Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Palembang telah membentuk sanitasi massal pengelolaan limbah di Sungai Sekanak. Terlebih, sungai itu sudah berubah secara fisik dan kimia karena pencemaran.
Sanitasi massal pengelolaan limbah itu akan dikembangkan dari rumah susun (rusun). Sebab, rusun terbentuk blok-blok dan pembuangan limbah rumah tangga menuju satu arah, yakni ke sungai.
Ditulis dalam Palembang | Bertanda: lingkungan, sanitasi, sungai, sungai sekanak | Tinggalkan sebuah Komentar »
Kode Daur Ulang Plastik
Posted by infokito™ pada 27 Desember 2008
Sejak ditemukannya plastik awal abad lalu, plastik telah menjadi benda yang paling populer yang digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari dengan cara yang inovatif dan unik. Plastik sendiri digunakan karena dapat diproduksi dengan mudah dan murah, kuat dan tergolong awet.
Ditulis dalam PengetahuaN | Bertanda: daur ulang, kode, kode plastik, lingkungan, plastik | Tinggalkan sebuah Komentar »
Sungai Rebo Tercemar Tumpahan Minyak
Posted by infokito™ pada 24 Desember 2008
Tahun 2007 lalu, tangki minyak Pertamina Unit III, Plaju, bocor dan mencemari Sungai Rebo, RK II, Kecamatan Banyuasin I. Kali ini, kejadian serupa terulang. Warga di daerah itu sejak beberapa hari lalu harus menyaksikan pemandangan tumpahan minyak yang mengumpul menjadi busa berwarna kuning kecoklatan di bawah rumahnya. Meskipun bentuknya seperti busa, namun kalau didekati bau khas minyak masih menyengat. Warga juga ekstrahati-hati, menghindari agar tumpahan tersebut tidak tersulut api.
Seorang warga, selasa (23/12) mengambil satu derigen busa dari bawah rumah dan mencoba membakar ujung kain yang terlebih dahulu dicelupkan dalam busa. Seketika, kain itu terbakar. “Makanya kami di sini hati-hati menyalakan korek, takut salah buang terus kebakaran,” tutur Iis, seorang warga di Desa Sungai Rebo.
Menurut Iis, warga sebetulnya sudah memasang bambu di pinggir sungai agar busa-busa minyak tidak sampai ke bagian bawah rumah. Hanya saja, saat air pasang, sebagian busa tetap masuk. “Kalau mandi, terpaksa badan agak bau minyak. Terus nyuci baju pun pake air yang ada busa minyaknya ini,” kata Iis lagi.
Hal senada diungkap Marni, warga Desa yang sama. Katanya, akibat mandi air busa minyak, sebagian warga mulai menderita gatal-gatal pada kulitnya. “Kulit jadi korengan seperti terbakar begitu, Pak,” ujarnya lagi.
Menurut Marni, dibandingkan dengan tahun lalu, kejadian kali ini tidak terlalu parah. “Warga menduga busa minyak itu adalah ‘tahi’ minyak yang keluar dari pipa bocor.”
Ketua RT 09, Sei Rebo Pasar bernama Mat Isa menambahkan bahwa tumpahan limbah minyak Pertamina mestinya menjadi perhatian utama agar tidak terulang. “Ini sudah kejadian yang keberapa. Kasihan juga warga Sungai Rebo ini,” imbuhnya.
Diakuinya, Sungai Rebo merupakan urat nadi kehidupan warga. Di sana menjadi tempat mandi, mencuci, dan lainnya. “Tapi, dengan tercemar seperti sekarang kegiatan masyarakat terganggu. Kami juga berharap ada jaminan dan asuransi kesehatan dari Pertamina terhadap warga yang menderita penyakit gatal-gatal,” tukasnya.
Bagaimana tanggapan PT Pertamina UP III? Manajer Umum Refinery Unit III, Ganapati Sj Satyani didampingi Kabag Hupmas Refinery Unit III Ir Ruslan Kamaludin menjelaskan, tidak ada kebocoran pada tangki maupun pipa di kilang mereka. Sejak Senin (22/12), personel K3LL (Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan) sudah turun ke lapangan untuk menangani menyebarnya busa-busa minyak itu.
“Sudah ada laporan dari Kabid K3LL. Mereka sudah menanganinya dengan berbagai cara dan metode. Tadi pagi berkat ketelitian sudah ditemukan penyebabnya,” jelas Ganapati. Sumber busa mengandung minyak itu dari CD V.
Di sekitar areal itu sebenarnya sudah dilengkapi oil catcher dan oil separator. Jadi, busa minyak yang tergolong produk setengah jadi terperangkap di sana. Ditambah lagi dipasangnya oil boom untuk menahan minyak maupun limbahnya menyebar ke Sungai Rebo.
Hanya saja, lantaran hujan dan debit air tinggi, sebagian busa mengandung minyak itu keluar dan hanyut di Sungai Rebo. “Tapi telah diupayakan agar keluarnya busa minyak itu tidak berlanjut. Adanya warga yang kulitnya gatal akibat busa minyak silakan berobat ke RS Pertamina. Meskipun sebenarnya harus dikaji lagi, apakah benar akibat busa itu atau penyebab lain,” kata Ganapati. Saat ini Pertamina belum melihat alasan untuk mengungsikan warga dari areal itu. (mg 26/46)
Ditulis dalam Palembang | Bertanda: lingkungan, minyak, pencemaran, pertamina | 1 Komentar »
Palembang Akan Ditanami 2.000 Pohon Langka
Posted by infokito™ pada 27 November 2008
Sebanyak 2.000 pohon langka, seperti meranti, pule, cempako, dan mahoni, akan ditanam di sejumlah kawasan di Kota Palembang. Penanaman pohon tersebut diprioritaskan ke kawasan yang termasuk lahan kritis, seperti di sepanjang Jalan Sriwijaya yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Ilir, tambahnya.
Ditulis dalam Palembang | Bertanda: lingkungan, Pohon | Tinggalkan sebuah Komentar »
Sungai Harus Dinetralisasi PT CIFU
Posted by infokito™ pada 22 November 2008
PT Cipta Futura (Cifu) berkewajiban menetralisasi Sungai Lagan dan Nau yang telah tercemar limbah pabrik crude palm oil (CPO) miliknya. Saat ini, batas waktu (deadline) yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muaraenim kepada PT Cifu untuk menetralisasi sungai tersebut sudah habis. Di sisi lain, warga Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muaraenim, mengancam akan melakukan unjuk rasa besar-besaran jika pihak PT Cifu tidak bisa mengolah limbah beracun yang mengakibatkan ribuan ekor ikan di sungai tersebut mati.
Ditulis dalam Muara Enim | Bertanda: limbah, lingkungan, pencemaran, sungai | Tinggalkan sebuah Komentar »
Air Sungai Musi Layak Minum
Posted by infokito™ pada 19 November 2008
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menyatakan, air Sungai Musi masih layak dikonsumsi masyarakat. Sebab, sesuai aturan, industri di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) sudah memiliki manajemen pengelolaan air sungai.
Kepala BLH Sumsel Akhmad Najib menjelaskan, khusus pencemaran air, sudah dilakukan pemantauan kelola lingkungan dan setiap perusahaan wajib memiliki instalasi pengelolaan air limbah. Pemerintah kabupaten/ kota wajib mengevaluasi pengelolaan instalasi air yang berpotensi mencemari air di sekitarnya, terutama sungai.
Ditulis dalam Sumatera bagian Selatan | Bertanda: Air Minum, limbah, lingkungan, Sungai Musi | Tinggalkan sebuah Komentar »
Palembang Maju ke Tingkat Asia
Posted by infokito™ pada 13 Oktober 2008
Semangat gotong royong masyarakat Palembang dan program kampung ramah lingkungan yang dicanangkan Walikota, ternyata menjadikan kota ini sejajar dengan sembilan kota besar di sembilan negara ASEAN sebagai kota terbersih dan berwawasan lingkungan.
Atas prestasi ini, The ASEAN Environment Minister memberikan penghargaan berupa ASEAN Environmentally Sustainable City Award 2008, diterima Walikota Palembang, Ir H Eddy Santana Putra, MT di Hanoi (Vietnam) 8 Oktober lalu.
Ditulis dalam Palembang | Bertanda: ASEAN Environment Minister, ASEAN Environmentally Sustainable City Award, Award, lingkungan, penghargaan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Hutan Bakau di Lampung Beralih Fungsi Jadi Tambak
Posted by infokito™ pada 18 Mei 2008
Kawasan hutan bakau (mangrove) di sepanjang pesisir Provinsi Lampung dipastikan telah banyak beralih fungsi setelah ditebangi, terutama berubah menjadi kawasan pertambakan tradisional maupun modern, selain menjadi lahan pertanian dan permukiman warga.
Kondisi hutan bakau di Provinsi Lampung itu, menimbulkan kecemasan kalangan pencinta dan pemerhati lingkungan hidup, di Bandarlampung, Senin, sehingga berupaya bergiat dan mendorong agar dilakukan pemulihan, perlindungan dan pelestarian kawasan hutan bakau yang masih tersisa serta merehabilitasi mangrove yang telah rusak.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Sumatera bagian Selatan | Bertanda: hutan, Hutan Mangrove, lampung, lingkungan, Lingkungan Hidup | 1 Komentar »
Limbah Sungai Ogan Disorot
Posted by infokito™ pada 20 Maret 2008
Sungai Ogan yang tercemar limbah rumah tangga dari pemukiman sepanjang pinggiran sungai mendapat sorotan Bupati OKU H Eddy Yusuf. Dia menuding para pemilik rumah toko (ruko) di sepanjang pasar menjadi produsen limbah terbesar yang mengotori Sungai Ogan.
Ditulis dalam Ogan Komering Ulu | Bertanda: Limbah Sungai, lingkungan | 1 Komentar »
50 Persen Proyek Gerhan di Sumsel Gagal
Posted by infokito™ pada 22 Januari 2008
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Selatan (Sumsel) menilai Pemerintah Provinsi Sumsel gagal dan tidak mempunyai perhatian serius terhadap pelaksanaan gerakan rehabilitasi hutan (Gerhan) di daerah ini.
”Pemprov Sumsel belum memiliki perhatian serius terhadap rehabilitasi kerusakan hutan di daerah ini yang kerusakan hutannya sudah sangat parah. Selama ini alokasi dana penghijauan selalu datang dari pusat, dan Program Gerhan di daerah ini hanya berjalan 50 persen,” Kata Direktur Walhi Sumsel Sri Lestari SH, Ahad (20/1).
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Sumatera bagian Selatan | Bertanda: hutan, konservasi, lingkungan, Rehabilitasi, sumsel | Tinggalkan sebuah Komentar »
Sembilan dari 32 Bukit di Bandar Lampung Habis Dieksploitasi
Posted by infokito™ pada 8 Januari 2008
Sembilan dari 32 bukit yang ada di Bandar Lampung saat ini sudah berubah bentuk. Bukit Camang Timur yang berfungsi antara lain sebagai daerah resapan air, misalnya, dieksploitasi untuk pengembangan permukiman mewah dan pertambangan galian C.
Pantauan Kompas, Senin (7/1), bukit Tamin pun sudah hancur diratakan dan dimanfaatkan sebagai tempat permukiman. Sementara itu, bukit Randu yang terletak di tengah kota, yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan hutan kota dan daerah resapan air, habis dimanfaatkan untuk pembangunan hotel dan restoran mewah. Satu bukit lainnya, yakni bukit Kunyit, hancur akibat penggalian batu secara berlebihan.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Sumatera bagian Selatan | Bertanda: Alam, Bandar Lampung, konservasi, lampung, lingkungan | 1 Komentar »
















































